Youtube

https://www.youtube.com/channel/UCxN1EYpHWR_SJdzBMtTyQeg

Senin, 24 September 2018

cerpen_Dunia Tak Sekejam Yang Ku kira



Dunia Tak Sekejam Yang Ku kira

Aku adalah seorang wanita muda tak berdaya. Tak berdaya tuk menghadapi semua ini. Tak berdaya menghadapi hidup ini. Aku adalah bagian kecil dari dunia. Dunia yang slalu kuanggap kejam. Dunia yang penuh keganjalan. Aku tak pernah menghargai hidup. Karena hidup yang ku jalani, tak pernah sesuai dengan yang kuingginkan.
Sampai suatu ketika, aku bertemu dengan seseorang yang mengubah sgalanya. Yang mampu mengubah argumen ku pada dunia. Ia menyadarkanku akan dunia yang sebenarnya. Kalau dunia tak selamanya kelam. Ia yang mengajarkan ku menghargai alam, menghargai perasaan, danmenghargai dunia ini.
Aku tak pernah menganggap hidup ini indah. Bagiku hidup adalah musuhku. Karena yaku tak pernah bisa menikmatinya. Aku tak pernah bahagia. Sekalipun aku bahagia, itu tak untuk waktu yang lama.
Sudah lama aku menanti perpisahan. Berpisah dengan dunia ini. Ya, aku selalu bertanya, “kapankah aku mati?” Bagiku, jika aku cepet mati itu berarti penderitaan ku kan berakhir.
Kehidupanku selalu berjalan monoton. Setiap hari kulalui dengan perasaan yang sama. Meski aku tak bahagia, aku tak pernah merasakan sedih yang mendalam. Aku membenci dunia ini, bermula ketika aku dilahirkan ke dunia ini.
Ya, aku dilahirkan dengan jalan normal. Namun, tak seperti bayi pada umumnya, berat badanku dibawah rata-rata. Dan saat di lahirkan aku tak menangis. Mungkin itu sebabnya, sampai sekarang aku jarang menangis.
Aku lahir dangan keterpaksaan. Orang tuaku tak pernah mengharapkan kehadiran diriku. Tapi, aku bukanlah anak haram. Ayah ibuku sudah menikah setahun lalu sebelum aku lahir. Saat mengetahui ibu hamil, mereka tak tersenyum. Bahkan merunduk sedih. Maklum saja, waktu itu keadaan sangat tidak memungkinkan. Kondisi ekonomi masih belum stabil. Ayah tak punya pekerjaan tetap.
Hingga ayah sering meninggalkan rumah dalam waktu yang tidak sebentar. Ada pula sebagian warga yang menuduh ibu berbuat macam-macam dengan laki-laki lain. Awalnya, mereka ingin membunuhku saat dalam kandungan. Namun, tak berhasil.
Kini, setelah aku lahir keadaan tak kunjung membaik. ASI ibu tak juga keluar. Sampai aku hanya diberi air putih. Terkadang teh manis. Setelah aku lumayan besar, ibu menyuruhku segalanya. Aku yang menyelesaikan pekerjaan rumah. Terpaksa ibu harus pergi pagi-pagi buta membantu ayah mencari uang. Aku selalu sendiri. Tanpa pernah mengerti arti kasih sayang.
Hidupku sebelum ada dia..............
Perkenalkan aku Latifa artamevia. Aku hidup bersama keluargaku. Lengkap dengan ibu, ayah, dan adik. Aku adalah anak sulung dari tiga bersaudara. Ya, jadi wajar kalau rasa cinta orang tuaku harus terbagi. Aku harus selalu mengalah dan mengalah. Di mata mereka, aku selalu salah. Jadi wajar saja aku jarang di rumah.
Aku menghabiskan waktuku tuk merenung. Di tempat yang sepi. Tanpa suara. Biasanya aku pergi ke kamar mandi, gudang, atau lab komputer. Terkadang aku menuju perpustakaan. Bukannya sok sibuk atau sok rajin, tapi karena aku suka kedamaian. Tak banyak yang menyukai perpustakaan, kan?
Hanya orang-orang jenius dan orang kurang belaian seperti aku ini yang meramaikan perpustakaan. Berbeda dengan hari biasanya, kini aku ditemani oleh seorang siswi. Aku takkan menyebutnya teman. Namanya Teresiakiana. Aku lebih sering memanggilnya Tere.
Katanya, ia sudah lama ingin ke perpus. Tapi karena tak ada teman, ia enggan pergi sendiri. Seperti biasa aku mengambil majalah sekenanya dan duduk di bangku pojok. Enggan di ganggu siapapun. Sedangkan Tere , masih asik memilah-milah buku cerita. Yah, maklum pecinta novel gitu..
Majalah itu hanya sekedar formalitas belaka. Karena tujuan ku yang utama adalah untuk merenung. Kali ini aku berfikirtentang cinta. Cinta yang ada antara lelaki dan perempuan. Rasa yang bahkan sepertinya aku takkan pernah merasakannya. Rasa yang selalu kuharapkan dari orang tuaku...
Ya, aku tak pernah tahu bagaimana siswi-siswi seangkatanku menjalani hari-harinya bersama orang tuanya. Sebenarnya, aku tak peduli. Tapi terkadang aku ingin tahu semuanya.
Tak sadar Tere telah ada didekatku. Ia asyik membaca novelnya yang berjudul ”ayat-ayat cinta”. Sebentar-sebentar ia menoleh ke arahku. Rupa-rupanya ia memerhatikan aku sedari tadi.
Saat aku tersadar dari lamunanku, Tere langsung menyambarku. “haey, Tif lo gapapa kan?”
“enggak papa. Memangnya kenapa? ” aku
“lo baca majalah apa ngelamun,sih? Kalau mau ngelamun jagan di sini. Tuh, majalahnya aja sampe kebalik. Nglamunin apa sih?” tere
“aduh, ketahuan deh. Tapi, suka-suak aku dong mau nglamun di mana aja. Itu hak ku.. kamu repot banget ngurusin hidup orang.” Aku
“Iyeee, sorry.. sensi banget. Nglamunun apa sih?” Tere
“Iiih, kepo deh.”Aku
Suasana hening sejenak. “Tere, kamu dah pernah rasain cinta?” aku
“idih, tadi ditanya bilang kepo. Sekarang malah tiba-tiba nanyain cinta. Kesambet apaan lo?” Tere
Suasana hening lagi.” Kenapa kamu nanyain cinta? Semua orang pasti pernah ngrasain cinta dan dicintai Tif. Meskipun belum pernah pacaran. Karena cinta ada selalu di hati. Misalnya cinta orang tua...”
“ sayangnya aku berbeda Ter! ” aku
Tere tak menggubris. Dan pembicaraan pun berakhir. Aku melamun lagi. “ benarkah aku pernah merasakan cinta? Seperti apa ya?” batinku terus bertanya.
“udah ya, aku mau turun dulu. Mau makan, duluan ya Tif. Jangan nglamun aja lo!” tere
Aku tak menjawab. Pikiranku terjun bebas melayang dan membayangkan betapa indahnya cinta. Yang bahkan aku tidak mengetahuinya. Tapi aku selalu berharap rasa itu akan datang kepadaku. Yang ku tahu cinta itu indah. Seperti kata orang kebanyakan.
***
Hari demi hari berlalu. Sampai saat ini tak juga kutemui cinta. Tak kunjung hadir, dan sama sekali tak ada yang menyentuh hatiku. Semuanya hambar. Hingga aku mulai teobsesi dengan kata cinta dan kasih sayang. Dan aku harus menemukannya. Kali ini aku bertemu dengan Keynan. Ia murid yang pandai, dan baik pula. Kurasa dia bisa ku ajak bercerita.
“Key, bolekah aku bertanya sesuatu?” Aku
“tentu saja. Tentang apa?” Keynan
“tentaang cinta dan kasih sayang” aku
Key terkejut. Seorang gadis yang tak pernah menyapanya dan tak pernah berbincang-bincang dengannya, tiba-tiba bertanya seperti itu. Dengan perasaan bingung dan penuh tanda tanya ia pun menjawab,”ia memangnya kenapa?”
“tidak apa-apa. Aku yakin kau tahu banyak tentang itu. Dan aku ingin menceritakan kepadamu sebuah rahasia.” Aku
“benarkah? Kalau begitu lebih baik nanti saja pulang sekolah. Supaya tidak banyak yang tahu” key
“baiklah. Sebelumnya terimakasih Key.” Aku
Aku pergi menjauh. Tapi, Key masih disana. Terpaku dan Terdiam seribu bahasa. Ia diliputi rasa bingung tiada terkira. Sedangkan aku terus saja melangkah dengan senyum-senyum kecil yang tlah lama hilang dari wajahku.
Sore itu, sekolah sudah hampir sepi. Sengaja, aku membereskan buku-bukuku lebih lama dari biasanya. Aku menunggu  key yang tak kunjung datang. Terbiasa dengan kesepiaan dan ketenangan, aku justru menikmati saat-saat seperti ini. Tak lama kemudian, Key datang mengenakan jaket tebalnya. Ia duduk disebelahku, terlihat canggung memang.
“Key, ku kuira kau lupa. Dan takkan datang menemuiku.” Aku
Key tersenyum, “takkan aku tak datang untuk janji yang tlah kubuat. Aku baru saja megantarkan proposal ke meja pak Kepsek.”
Aku pun berusaha membuka pembicaraan, “baik, kita mulai saja. Aku tidak mau basa-basi. Aku tahu kalau waktumu begitu berarti. Aku ke sini hanya untuk bertanya apa itu cinta?”
Mata Key terbelalak. “Kau tidak tahu cinta?”
“Ironis memang, tapi kalau aku benar-banar tak mengerti mau bagaimana lagi.” Kataku menambahi,
“baiklah, aku akan coba menjelaskan. jadi cinta itu sebuah perasaan yang hadir dengan penuh kebahagiaan. Ia mampu mengubah pandangan seseorang. Bahkan bisa mengubah kehidupan seseorang. Cinta itu bermacam-macam. Salah satunya cinta monyet remaja pada kekasihnya.” Keynan
“seperti cintamu pada Mayang? Aku masih belum paham Key.” Aku
“Mayang? Aku tak pernah ada hubungan dengannya. Yang ku tahu, ia anak yang baik. Tapi, ia sama seperti kau. Sama sekali belum pernah ku bercakap dengannya. Yah, kita teman biasa. Sama seperti aku temanmu.” Keynan
“Sudahlah. Lupakan tentang Mayang. Kembali ke topik kita megenai cinta dan kasih sayang. Tapi, tunggu sebentar. Tadi kau menyebutku teman? Apa aku ini layak teman?” aku
Key menghembuskan napas panjang. “ya, teman. Apa ada yang salah? Sepertinya, kau terlalu kaku. Kita semua di sini teman, kan? Kau tahu, aku sering memerhatikan dirimu melamun. Apakah itu perihal cinta? Sepertinya, pembicaraan ini takkan ada akhirnya. Kau harus mencoba mencari cinta dalam hidupmu. Merasakannya, dan menjalaninya.”
Aku tertunduk. Ketika aku hendak mengucap kata, adzan berkumandang. Pembicaraan kita hari ini pun berakhir. Bahkan, siswa terpandai pun  belum  mampu meyadarkan ku tentang cinta. Apakah, aku terlalu bodoh? Hingga tak mampu mencerna kata-kata Key.
Key, siswa yang slalu menjadi yang nomor satu itu terlalu baik. Bahkan, untuk pembicaraan pertamanya padaku. Ia begitu lembut, tak sekasar kelihatanya. Ia santai dan penuh wibawa.
***
Tere, siswi yang baik pula. Ia teman sebangku ku. Ia lah yang selalu menungguku. Mengingatkanku ketika aku melamun. Ia care. Bedanya, ia lahir di tengah keluarga yang lebih beruntung.
Aku pun masih bertanya-tanya. Tere yang kemarin sempat tak menggubris ku, kini kuajak ke suatu tempat. Hanya berdua. Dan aku pun menanyakannya soal cinta.
“ter, aku masih kepikiran soal cinta. Bagaimana aku bisa mengerti dan  memahaminya?”
“entahlah, sebenarnya cinta itu sederhana. Kau tak perlu repot-repot mencarinya. Karena cinta itu ada disini, dihatimu.”
“benarkah?”
“ya, kamu tak perlu mencari definisi cinta. Karena kamu sebenarnya sudah tahu. Hanya saja mungkin kamu belum sadar”
“entahlah ter, kurasa aku memang belum pernah merasakan indahnya cinta. Semua terlalu kejam untukku.”
“husssss, nggak boleh gitu. Dah buruan habisin jusnya”
Begitulah pertemuan singkatku mengenal cinta yang masih sebatas kata. Hingga akhirnya, aku larut dalam semuanya. Lelah. Tak lagi kupikirkan tentang cinta. Hingga aku lupa aku pernah memikirkan perihal cinta. Hingga suatu ketika…
***
Ada murid baru di sekolah. Satu kelas dengan ku. Enan namanya. Dia dari Sulawesi. Badannya tegap dan kokoh. Matanya tajam menusuk. Kulitnya hitam manis. Dan satu hal, dia selalu bisa membuat orang lain tersenyum. Seperti magnet yang mengikat orang-orang di sekitarnya hingga tak ada yang mau jauh-jauh darinya.
Saat pertama siswa itu datang aku sudah merasa berbeda. Seperti ada yang mengusik ketenanganku. Batinku bergejolak. Sampai kini pun, setiap kali mata beradu pandang aku selalu kalah. Bukan karena aku tak berani menatap, namun selalu ada perasaan kaku yang membuatku tak kuasa menatap.
Aku bingung. Bahkan sangat bingung. Enan memang sedikit menyeramkan. Namun ia baik. kenapa aku begini? Anak motor yang satu sekolah dengan ku pun pernah ku ajaak bertengkar. Dan aku sama sekali tidak takut. Sepertinya ini bukan rasa takut.
Anganku terus melayang menembus ruang. Terbelesit dipikiranku mengenai cinta. Ah, apa iya? Aku tidak yakin. Katanya cinta seperti rasa seoang anak pada oorang tuanya. Dan yang kurasakan berbeda. Jantungku tak pernah berdegup begitu kencang saat bersama orang tuaku. Namun ada satu hal yang sama. Ketika aku tak ingin kehilangan mereka. Sama seperti aku tak ingin kehilangan Enan.
Lama sekali bayangannya menghiasi pikiranku. Mengisi ruang kosong dalam lamunanku. Bahkan, aku tak pernah banyak bicara dengannya. Namun mengapa dia selalu dating dalam anganku.
Wkatu cepat berlalu hingga mentari sudah meninggi menghiasi langit biru. Aku bangun dari dunia mimpiku yang semu. Mengisi hari mingguku dengan mengerjakan perkerjaan rumah seperti yang disuruh ibuku.
Aku mulai mengisi air. Menyiapkan sabun untuk mencuci piring dan perabotan rumah lainnya. Belum selesai aku mencuci terdengar suara ketukan pintu yang agak keras. Spontan aku berfikir, apa itu Enan?
Terburu-buru aku membuka pintu, sampai lupa cuci tangan. Ah ternyata bukan. Kulihat ada sesosok pria mengenakan kemeja rapid an sepatu. Ia sudah agak tua.
“Permisi, apa ada yang bisa saya bantu, pak?” aku
Ia menoleh. Aku terkejut. Kupandangi wajahnya berkali-kali. Lalu aku memeluknya. Kudekap erat dan tak ingin kulepaskan. Tangisku mulai memecah. Dia adalah ayahku. Yang sudah bertahun-tahun pergi meninggalkan rumah. Dan kini dia kembali.
“ini Latifa kan?” ayah
Aku melepaskan pelukanku, mengangguk.
Latifa artamevia, anak ayah?” ayah
“iya ayah, ayah aku rindu.” Aku
“ayah juga” ayah
Ayah kembali mendekapku. Tak sadar aku mengotori bajunya dengan sabunku.
“Aduhh, mati” batinku.
Perasaanku yang haru seketika berubah menjadi takut. Ayah selalu marah ketika aku melakukan kesalahan. Aku tak berani berkata. Hingga ayah sadar dengan sendirinya kalau baju yang ia kenakan basah. Namun ternyata kali ini ayah tidak marah. Ia justru bergurau denganku. Dengan nada-nada yang renyah. Dan senyum yang merekah. Aku mulai bahagia.
Beberapa saat kemudian, Ibu pulang. Kita menghabiskan sepanjang hari dengan bercerita. Bercerita tentang kehidupan masing-masing. Dan akhirnya kita dapat saling berbagi dan memahami. Mereka pun sedikit demi sedikit memahami posisiku. Meskipun itu tak merubah apa-apa, tapi aku bahagia. Sangat bahagia.
“sekarang, kita semua telah utuh. Berkumpul dalam satu ikatan. Ayah tidak ingin membangun jarak dengan kalian. Sekarang, kita nikmati saat-saat indah dalam hidup kita. Dan ayah ingin dengar bagaimana kehidupan kalian di sini?” ayah
“ayah lah cerita dulu. Bagaimana hidup disana? Kenapa ayah lama tak pulang? Kita rindu ayah” aku
Seminggu sudah kebersamaan itu berlangsung. Kedamaian itu tercipta. Dan perasaan itu terbangun. Dan aku mulai berfikir apakah ini yang dimaksud kasih sayang? Haruskah aku menunggu selama ini untuk dapat merasa diperhatikan. Merasa sama seperti anak-anak pada umumnya.
 Hingga suatu ketika Ibuku jatuh sakit. Keadaan rumah pun tak lagi sama. Ayah juga diminta bos pergi bareng bos . namun, Ayah memutuskan untuk tetap tinggal dirumah. Hari demi hari berganti. Hidup kami mulai sulit.
“Disini susah cari kerja, ayah harus balik sana lagi” ayah.
Aku tak mampu menolak. Kini aku Sendiri. Lagi. Seperti dulu.
Dilain sisi,  Si Enan makkin menjadi. Kelakuannya tak dapat diambil nalar. Di sekolah ia tambah brutal urakan. Tp tetap, aku masih menyukainya. Berharap suatu ketika ia berubah.
Enan pun kian berubah baik. aku mengagumi dirinya. Dan akhirnya dialah yang mengajariku arti cinta yang sesungguhnya. Dia menjadi sosok lelaki terhebat dalam hidupku. Lain dengan ayahku yang kian pergi, berlalu. Meski kutahu ayah pergi untukku. Ayah pergi, untuk keluargaku. Enan seakan membuatku lupa akan semua masalahku. Ia datang membawa senyuman. Menggerakkan hati dan raga ku. Kita berjalan sebagai sahabat. Sangat baik. teratur. Aku mulai terbiasa..
Karya: Maghfiroh Izza Maulani

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Topik 6 Aksi Nyata PSPI

  Topik 6 Aksi Nyata Perspektif Sosiokultural dalam Pendidikan Indonesia Nama          : Maghfiroh Izza Maulani NIM             : 230809...