Youtube

https://www.youtube.com/channel/UCxN1EYpHWR_SJdzBMtTyQeg

Jumat, 24 Agustus 2018

novel pendek anak sma



    
    

    
    
     qbdjk
 



Cerita Panjang hampir jadi novel
 
cerita/ce·ri·ta/ n 1 tuturan yang membentangkan bagaimana terjadinya suatu hal (peristiwa, kejadian, dan sebagainya): itulah -- nya ketika kami mendaki Gunung Sumbing; 2 karangan yang menuturkan perbuatan, pengalaman, atau penderitaan orang; kejadian dan sebagainya (baik yang sungguh-sungguh terjadi maupun yang hanya rekaan belaka); 3 lakon yang diwujudkan atau dipertunjukkan dalam gambar hidup (sandiwara, wayang, dan sebagainya): film ini -- nya kurang bagus; 4 ki omong kosong; dongengan (yang tidak benar); omongan: (sumber https://kbbi.web.id/cerita) 
 
novel/no·vel/ /novél/ n Sas karangan prosa yang panjang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang di sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku; (sumber https://kbbi.web.id/cerita)
 
Tak selamanya cinta berujung manis. Jatuh cinta memang manis. Namun patah hati itu sakit, perih. Banyak yang memilih menjadi sahabat daripada menjalin cinta. Karena sahabat memiliki posisi tersendiri, yang terkadang menggantikan cinta. 
 
berikut adalah novel karya saya yang bersfat imajinatif. selamat membaca kawannn.. semoga terhibur 

MILLY

            SMA bukanlah tanda jadi dewasa. Bukan kebahagiaan dan bukan pula merangkai masa depan. Itulah yang dirasakan Mill. Yang kini baru menjalani MOPDB atau biasanya dikenal dengan MOS. Mill, sejak dari SMP memang sosok pendiam. Itu sebabnya, temannya tak banyak. Berasal dari sekolah desa tak menyurutkan mentalnya tuk mencoba sekolah di kota.
            Ya, Mill berasal dari desa. Dari keluarga sederhana yang juga sangat mendukung keinginannya. Peduli pendidikan. Mill adalah anak tunggal keluarga Atmajaya-Marinah. Jadi, mau tidak mau, Mill harus sukses. Demi dirinya, demi orangtuanya..... ah, malah jadi bahas masa lalu. Lanjut ke topik.
            Hari pertama MOS ia tak banyak komentar. Seperti murid pada umumnya, ia memenuhi semua yang di perintahkan kakak OSIS. Tanpa mengeluh, Mill melakoni semuanya. Mill beruntung tak biasanya MOS sesimple ini. Tapi, no problem.
            Hari berikutnya, Mill mendadak sakit. Sepertinya karena belum terbiasa makan makanan kota. 2 hari berturut turut ia tak masuk. “Tak apalah, tak usah ikut MOS”, pikirnya. Tapi masalahnya kalau ia sakit, bagaimana ia bisa berobat? Ah, sudahlah. Semoga besok lekas sembuh.
            Seminggu berlalu. Ternyata hidup tanpa didampingi orang tua tak semudah yang Mill bayangkan. Mill rindu mereka. Tak jarang Mill menangis di kosan. Di sekolah pun ia sering duduk termangu sendirian.
            Kebetulan anak sebangku Mill, tak terlalu ramah. Namanya Jessie. Maklum, ia lebih deket sama cowok daripada cewek. Ya, agak tomboy gitu. Mill di SMA gak punya temen deket. Adanya ya Cuma temen yang deket saat perlu aja. Habis itu kalau dah gak butuh tinggalin deh.
            Jessie itu orangnya gampang buat bergaul kepada siapa saja. Berbanding terbalik dengan Mill. Yang bahkan, tak berani menyapa jika tidak didahului menyapa. Jessie sangat baik pada Mill. Seringkali Mill diajak bercengkrama bersama temen yang lain. Namun, Mill sering kali menolaknya. Mill tidak cukup berani untuk bergabung bersama mereka.
            Kala itu kelas sepi. Tak sadar, Cuma ada Mill dan seorang cowok tak terlalu tinggi. Cowok itu main game dengan asyiknya. Sampai ia sadar, tak ada lagi orang di sampingnya. Cowok itupun keluar. Tapi gak ada orang juga. Tak ada pilihan lain. Akhirnya, ia bertanya pada Mill.
            “Pada kemana sih?” si  cowok mendekati Mill.
            “Emm, aku gak tahu” jawab Mill.
Nah, dari situ mereka mulai deket. Dari yang sama sekali gak punya temen, jadi punya teman cowok. Mereka saling kenalan bertukar pikiran. Cowok ini asyik banget di ajak ngobrol.
Sekarang kita tahu, anak cowok itu namanya Zein. Ia memang terkenal iseng, ia ikut kurang lebih 10 ekskul. WAW,,,amazing. Mill baru kali ini bisa ngobrol sama cowok. Bisa deket gini. Apalagi buat tempat curhat.
“Mill, aku boleh cerita sesuatu gak?” tanya Zein
“Apa? Ngomong aja,” jawab  Mill
“Aku lagi suka sama seseorang. Menurutmu, wajar gak kalau baru seminggu tapi aku udah bisa rasain cinta.” Zein
“Menurutku sih, wajar-wajar aja. Karena cinta tak memandang lokasi. Tak pula memandang waktu.Tapi, saranku kamu jamgan buru-buru ngomong langsung sama dia. Pendem aja dulu. Yakinin dirimu, apakah kamu bener-bener suka sama dia. Atau justru cuma pelampiasan. Atau malah Cuma baper doang. Ya, setidaknya 1 atau 2 bulan. ” Mill
“okay deh. Gue coba. Thanks ya..” Zein
Zein pergi ke luar. Meninggalkan Mill dengan segala keraguannya. Ketidakmampuannya untuk berbicara di depan umum membuatnya gugup dan gemetar, waktu ditanyai sama Zein. But, Mill seneng banget.
Sebulan setelahnya, tersiar kabar kalau Zein punya pacar. Sekelas juga sama Mill dan Zein. Namanya Marsya. Cewek hits, cantik, feminin dan super duper gaul itu menerima Zein. Yang 3 hari lalu nembak dia. Tapi, apa Marsya memang beneran cinta? Ah, masa bodoh. Bukan urusan Mill.
Di sekolah ini, Mill ikut beberapa ekskul. Mikirnya sih, buat nambah temen. Tapi, ya emang dasarnya Mill susah deket sama orang. Hehe. Ia mengikuti ekskul yang sama kayak Zein. Journalistik.
Di journalistik, Mill tambah deket sama Zein. Cerita bareng, ke perpus bareng,buat video bareng, dan yang pasti ngerjain prokja bareng. Tapi, Mill harus inget kalau Zein dah punya pacar. Bahkan, Mill sering menjadi tempat curhat Zein tentang Marsya. Barusan nge-date lah, dinner lah, bahkan berantem juga. Dan entah mengapa, Mill tak terlalu suka akan hal itu.
Suatu ketika, saat kumpul journalist acara tak kunjung dimulai. Zein mendekati Mill. “Mill, apa barang yang paling kamu suka? Yang kamu bakalan seneng kalau di kasih sama cowok ganteng kayak aku gini?” tanya Zein dengan nada percaya dirinya.
Mill tersipu malu. Jangan-jangan Zein mau beliin sesuatu buat Mill. Tapi, jangan GR dulu deh. “Memangnya kenapa?” tanya Miil
“Emm, lusa adalah hari paling bersejarah. Karena Marsya ulang tahun.” Zein menjelaskan.
“oooh” Beruntung, tadi Mill tak buru-buru jawab. “Kalau buat Marsya apaan yaa? Sepertinya ia sudah punya segalanya. Entahlah, kebanyakan wanita suka mawar dan coklat.” Mill
“Ok. Thanks banget yaa.. Oiya, besok bisa bantuin aku ga? Dateng aja ke taman habis pulang sekolah.” Zein
“Iya. Tapi aku nggak janji.” Mill
Hari berikutnya, ualng tahun Marsya. Sengaja Zein pura-pura lupa dan membuat Marsyajadi marah. Sepulang sekolah Zein dan Millke taman. Ternyata Marsya tahu dan termakan cemburu. Marya bergegas pulang.
Ternyata, Mill diminta membantu Zein membuat kejutan untuk Marsya. Yaah, apa boleh buat dah terlanjur datang. Tak mungkin Mill pulang tiba-tiba. Setelah semua siap, Zein menghubungi Marsya. Tadinya, Mill mau izin pulang. Tapi, dilarang sama Zein.
Marsya tak kunjung datang. Mungkin masih kesal. Zein minta tolong sama sahabatnya Marsya buat nyuruh Marsya datang ke taman. Akhirnya Marsya daatang. Kelakuannya bersama Zein sangat romantis. Hingga Mill pulang mendadak. Tanpa sempat pamit.
Malamnya, Mill dan Zein sms an. Zein meluapkan kegembiraanya. Dan mengucapkan terimakasih karena Mill dah bantuin.
Di kelas, Mill selalau dapet nilai lumayan. Meski Cuma 5 besar, it is good.Kalau ada PR Mill selalu ngerjain. Walau di sekolah, kadang juga ikut nyontek. Tapi, temen- temen Mill juga nyontek kok. Kadang juga nyontek Mill.
Sedangkan Zein, ia tak terlalu pandai. Namun, rangkingnya selalu dibawah 20. Ia memang belum pernah dapet 10 besar, tapi setidaknya ia juga nggak bodoh-bodoh banget. Terkadang, Zein juga belajar bareng Mill. Meski ia juga sudah les, tapi menurutnya tak ada salahnya tuk belajar bareng kan?
Suatu ketika, Nilai matematika Mill gak tuntas. Awalnya, Mill masih bisa terima. Masih bisa posting kalau mungkin ia kurang belajar. Tapi, udah 3X. Ada yang gak beres. Mill pun memberanikan diri buat tanya sama pak Iyus, gurunya.
Setelah dilihat ulang, ternyata itu bukan tulisan Mill. Melainkan,,,,entahlah Mill tak mau asal tuduh. Tugas Mill di sabotase oleh seseorang. Pak Iyus pun mencari siapa  dalang di balik semua ini. Caranya? Pak Iyus menyuruh semua murid mengumpulkan catatannya. Dari situlah ketahuan bahwa Marsya yang melakukan ini. Pantas saja akhir-akhir ini nilainya selalu bagus.
Mill meminta Pak Iyus agar masalah ini cukup sampai di sini. Tak perlu sampai ke BK. Atau ke kepsek. Mill hanya butuh nilainya kembali. Ia tak ingin musuh. Apalagi berurusan dengan Marsya. Pak Iyus maklum. Dan sebagai gantinya, Marsya harus mengerjakan tugas berupa 100 soal matematika. Nilai Marsya juga terancam dikurangi. Tapi, masih untung tak di beri “nol”
Sikap Zein biasa-biasa aja. Agaknya, dia tak tahu apa yang barusan terjadi pada Mill dan Marsya. Meski kesal pada Marsya, Mill tak mau persahabatannya dengan Zein hancur berantakan. Ia juga gak mau buat Zein dan Marsya jadi berantem. Makanya, ia tak cerita satu pun pada Zein.
Tapi, pantaskah Marsya untuk Zein? Marsya memang bisa dibilang ratunya sekolah. Sedangkan Zein? Bahkan ada yang tak percaya kalau Zein adalah pacar Marsya. Tapi, ketulusan hati Zein tak pantas mendapatkan seorang Marsya. Yang dalam pandangan Mill adalah sang drama queen.
Menjalani hari tanpa didampingi orang tua memang berat. Mill harus ngelakuin semuanya sendiri. Apalagi orang tuanya cuma mampu ngirimin uang 300 per bulan. Itupun kalau gak ada maalah. 300rb dapet apa? Buat ngekosnya, 100rb. Itu udah yang paling murah. Terus bayar sekolah 100rb. Itu juga udah gradeterendah. 100rb buat makan, jajan, mbayar yang laen-laen lagi.
 Mill menyambung kehidupannya jadi guru les. Ngelesin anak SMP. Awalnya tiap pulang sekolah Mill main ke rumah temen. Sambil ngerjain tugas. Kan lumayan, gak usah cari makan siang. Hehe. Tapi masak tiap hari maen? Kan gak enak.. Mill juga sempet jualan, tapi karena gak balik modal, terus berhenti.
Kini, orang tua Mill kian bertambah tua. Ada kemungkinan bentar lagi Mill jadi sebatang kara. Astaghfirullah, gak boleh mikir macem-macem. Namun apa daya. Memang sudah takdir. Mereka meninggalkan Mill kaerena kecelakaan waktu kerja. Mill sendiri tahu setelah 1 minggu.
Waktu itu Mill pulang. Rencananya buat ngabarin kalau Ayah/ Bunda harus dateng ke sekolah. Biat ngambil rapot UTS dan menyelesaian pembayaran.Maklum, uang seragam ajabelum lunas. Di desa, terlihat rumah Mill sepi. Tak ada tawa Ibu yang meyambut kedatangannya.Tak ada pula baju bekas keringat ayah waktu kerja. Mill ketemu bulek. Dan bulek pun menceritakan semuanya. Nggak nyangka ayah ibu secepet ini ninggalin Mill. Bulek nggak sempet kasih kabar. Sibuk, apa memang lupa sama Mill? Maklum, selama di kota Mill jarang pulang.
Sudahlah, tak perlu dibahas lagi. Yang lalu biarlah berlalu. Tak perlu menyalahkan siapapun. Mill sempat ditawari tinggal bareng bulek. Maklum, bulek adalah satu-satunya keluarga yang Mill punya. Tapi, spontan Mill menolak. Mill mikir, kalau bulek juga punya anak seusia Mill. Nanti, Mill malah ngrepotin.
Mill tak kuasa menahan tangis. Ia berlari masuk rumah. Menuju kamar menghempaskah tubuhnya ke kasur. Membungkam mulutnya dengan bantal. Hingga lupa menutup tirai. Ya, beginilah keadaan rumah Mill. Sampai tak kuat beli pintu. Isak tangis Mill tak terdengar dari luar. Bulek pun enggan masuk. Bulek pikir, Mill butuh waktu sendiri.
“Mill, tak perlu kau sesali. Ini sudah takdir. Kalau perlu apa-apa datanglah ke Bulek ya.Bulek yakin kamu kuat. Bulek pulang dulu.”suara Bulek terdengar samar-samar. Bulek tak berani masuk. Hanya mengintip dari luar.
Suasana rumah Mill kini sepi, tak ada lagi suara yang selalu menyuruh Mill ini dan itu. Tak ada nasehat yang selalu Mill abaikan. Tak ada bentakan kasar Ayah. Semua sirna. Mill sadar, bahwa ia rindu akan kehadiran mereka.
Tangis Mill mereda. Mill memandangi sekeliling. Tak, ada satupun foto. Ataupun, benda yang melukiskan wajah mereka. Tangisan Mill tak kan mampu untuk mengembalikan mereka. Mill pun datang ke makam. Nampak dua nisan baru. Tangis Mill pecah lagi. Ia terjatuh, seakan kakinya tak mampu lagi menyokong baadnnya. Ia memeluk nisan itu erat-erat. Bibirnya berulang kali menyebut kata “maaf”. Mill memanjatkan doa.
Sepulamg dari makam, Mill menemui Bulek. Mill pamit mau ke kota. Awalnya Bulek ragu. Tapi, sifat Mill yang keras kepala membuat Bulek menurut. “ya” ucapnya. Dari Bulek Mill di bekali 2 lembar uang 20rb.
Mill kembali ke kota. Ke tempat gerah. Yang mungkin memang bukan tempat Mill. Di sana, Mill menutupi semuanya, hingga tak seorangpun yang tahu. Mill pendam semuanya dalam-dalam. Agar ia tak lagi mengingatnya.
Di sekolah, mill Masih terdiam. Sekuat-kuatnya Mill, ia tak mungkin dapat melupakan hal yang baru menimpanya begitu saja. Maklum, Mill sangat menyayangi kedua orang tuanya.
Di tengah jam istirahat.Zein menemui Mill, sangat peka dengan ketidakbiasaan sikap Mill. Zein memang hafal betul tabiat Mill. Memang sedari pagi Mill terdiam. Murung. Diamnya Mill hari ini tak biasa. Mill menggeleng. Lalu tangannya ditarik Zein menuju tempat yang sepi.
Di sudut sekolah, menempati kursi panjang yang kosong, Mill pun terpaksa bercerita. Kalau kini orang tuanya tlah tiada. Sampai-sampai ada guru yang lewat, mereka tak sadar.
Mill tak tahan menahan tangis. Tetes demi tetes tangis Mill membasahi pipinya yang lembut. Mill tak menutupinya dari Zein. Tak juga di usapnya. Zein tak sanggup berkata apa-apa lagi. Ia hanya bisa terdiam dalam isak tangis Mill. Zein memandang Mill kuat-kuat. Setelah cukup nyalinya, ia mulai membuka mulut.
“Sudahlah Mill. Tak perlu ditangisi. Tersenyumlah, hapus air matamu. Dengarkan aku baik-baik, mereka tidak pergi, mereka ada di sini(menepuk dada). Bersamamu.” Kata Zein.
Mill lari ke kamar mandi menghapus air matanya. Zein masih di luar. Setia menunngu.
“Kalau ada masalah lagi, jangan sungkan cerita. Aku siap jadi tempat curhat. Anggap saja aku ini kakakmu.” Zein
Mill gak jawab. Ia terus menunduk. Dengan Zein dibelakangnya seperti pengawal, Mill kembali ke tempat duduknya.
Esok paginya, Mill mengumpulkan keberanian untuk mengucapkan “terimakasih” pada Zein. Zein membalas Mill dengan senyuman.
Mill dan Zein, dua pribadi yang berbeda. Dan saling melengkapi. Sebagai sahabat, mereka terlihat begitu dekat dan sangat akur. Bahkan kedekatan Zein dan Mill melebihi kedekatan Zein dan Marsya. Itu membuat beberapa pihak tersinggung. Termasuk geng Marsya. Marsyanya sih biasa aja. Tapi, tiap hari di kompor-komporin, Marsya jadi kebawa emosi. Yaah, masalah lagi.
Selepas kepergian ayah dan bunda, Mill jadi pribadi yang tegar, kuat, dan penuh misteri. Apalagi, Marsya kini sering melakukan bully pada Mill.
Pernah waktu itu Mill dicegat oleh Marsya selepas pulang sekolah. Waktu tu, sekolah memang benar-benar sepi. Ketika Mill hendak pulang, Marsya sudah stand by di depan kelas. Marsya tidak sendiri, ia bersama Niken salah satu anak geng-nya.
Dengan tatapan sadis, Marsya menrik baju Mill. “eh, Mill... Lo nggak usah deket-deket deh sama Zein. Lo tau kan Zein itu pacar gue. Lo nggak punya hak buat deket sama dia. Zein Cuma buat Marsya. Lo juga nggak usah sok baik, sok cheer di depan Zein. Dari pertama gue liat Lo, Gue udah nggak suka sama Lo,” Kata Marsya setengah emosi.
Mill yang tak biasa menerima perlakuan ini memberanikan diri menawab, “Maaf kalau kamu tersinggung. Selama ini saya tidak mempunyai maksud apa-apa. Saya dekat dengan Zein hanya sebatas sahabat tidak lebih. meskipun Zein pacar kamu, dia masih bebas berkawan dengan siapa saja.Saya tidak akan menjauh dari Zein. Tidak pernah. Tidak akan pernah.”
Marsya semakin emosi, “Oh, jadi berani Lo sama Gue? Di sekolah ini nggak ada yang boleh nantang Gue, apalagi ngelawan omongan Gue.”
Marsya mengedipkan mata ke Niken. Mereka pun langsung mendorong Mill hingga terjatuh. Lalu Mill dilempari dengan telur dan sisa minum Marsya.
“ini akibatnya kalau Lo nggak mau nurut sama Gue. Kalo lo nggak mau jauhin Zein Lo bakal ngrasain ini tiap harigimana, Lo masih nggak mau jauhin Zein? ” bentak Marsya.
“Tidak. Tidak akan pernah.” Mill sembari menahan tangis yang memang sudah tak tertahankan.
Kala itu, Jessie lewat. Dengan berani Jessie masuk ke dalam gerombolan. Mengetahui bahwa keadaan Mill seperti itu, Jessie lalu mendorong Marsya.
“Apa maksudnya ini?” kata Jessie.
“apa? Uh. Pahlawan kesiangan.” Marsya tidak membalas dorongan Jessie. Ia dan Niken memlilih pergi meninggalkan tempat kejadian.
Entah mengapa perlakuan Marsya sedikit berbeda kepada Jessie. Mungkin, karena Jessie anak taekwondo. Daripada kalah telak mnding mundur pelan-pelan.
Jessie pun membantu Mill. Meskipun begitu, Mill tak menceritakan apapun pada Jessie. Jessie begitu baik, hingga rela meminjamkan jaketnya untuk Mill.
Suatu ketika Zein lagi males sama Mill. Mill bingung, kayaknya, ia gak pernah bikin salah keZein. Tapi, kok Zein kayak gini ya? Lagi-lagi ada orang yang iri sama Mill.Orang itu adalah Marsya. Ya ampun, dunia ini sempit banget yaah.
            Zein dikompor-komporin oleh Marsya and the geng. Katanya, Mill tak tulus berteman sama Zein. Ia hanya ingin manfaatin Zein. Pengen hartanya. Zein termangu. Seakan tak percaya. Tapi, karena yang ngomong pacarnya sendiri. Tentu saja Zein percaya.
Berulang kali Mill mendekati Zein. Menanyakan masalah yang sebenarnya. Namun, Zein selalu menghindar. Kedua anak itupun tak lagi terlihat dekat jangankan ngobrol. Bertatap muka pun enggan.
Hingga suatu ketika, Zein dan Marsya terlibat masalah serius. Terjadi perang. Nampaknya, Marsya makin menjadi. Dan Zein juga dah gak kuat. Bagi Marsya, Zein tak lebih dari sekadar status.
Waktu itu Mill liat Zein dibalik pintu. Dan pandangan Zein tertuju pada Marsya. Di sana tampak Marsya and the geng lagi ngomongin Candra. Anak paling ngetop di sana, Marsya bilang, ”Gue yakin gue bakalan dapetin Candra. Setelah gue dapetin Candra, gue tinggal mutusin Zein. Lagian, gue juga gak butuh Zein. cuma buat pamor doang. Lagian dianya juga bego. Mau-maunya tak suruh ngerjain PR. Dan bayarin makan. Kan lumayan.”
Tentu saja Zein sangat tersinggung. Ia berlari sampai menabrak Mill. Zein duduk di kursi sudut sekolah. Tempat yang bebas dari bisingnya kelas. Mill menghampiri Zein.
“Sorry aku ganggu. Mungkin aku di sini memang gak tepat. Kamu butuh waktu sendiri. Aku cuma mau bilang. Kalau wanita bukanlah segalanya. Tetaplah tegar. Seperti yang dulu pernah kau katakan, aku di sini ada buat kamu. Tak usah sungkan. Aku gak ngerti kenapa akhir-akhir ini sikapmu beda. Tapi, bagiku, kamu tetep kakakku.” kata Mill
Tak ada jawaban, Mill beranjak pergi. Tangan Zein pun spontan memegang tangan Mill. Menahannya tuk pergi. Mill kembali duduk. Zein bilang,”Makasih. Sekarang aku dah tahu. Dan aku akan selesaikan semua ini.”
Di hari itu juga Zein dan Marsya putus.
Mill takut, keadaannya sama Marsya akan kian memburuk. Hari itu, sepulang sekolah Zein dan Mill kelihatannya dah baikan. Mereka duduk di kursi panjang. Mereka saling berbagi cerita. Dan Zein tahu gimana perlakuan Marsya pada Mill selama ini.
Kalau di cari tahulebih lanjut, Marsya adalah saudara jauh Mill. Sayangnya, mereka tak pernah tahu.Dulu, bunda Mill pernah cerita soal saudaranya di kota. Tapi, Mill tak pernah memerhatikan.
Semester dua dah hampir usai. Para siswa tentu saja senang. Berbeda dengan Mill yang yang harus mencari dana melunasi sekolahnya. Kebetulan Mill termasuk siswi teladan. Jadinya ia dapat bantuan dari pemeintah. Ia tinggal bayar setengahnya. Kira-kira setengah juta. Uang yang lumayan.
Mill bingung, ia terancam dikeluarkan dari sekolah kalau tak segera melunasi. Apalai kini, anak SMP dah gak les lagi. Minjem Zein juga gak mungkin. Cara satu-satunya, cuma kerja. Ya, Mill jadi pelayan sebuah restoran. Jam kerjanya dari jam 17.00-21.00. jadi pelayan aja gak cukup baru bisa nutup setengah kekurangan. Beruntung 2X nilai matematika Mill 100. Dan hadiahnya, dapet uang 100rb. Terus ia diminta guru sejarah koreksi upahnya 50rb. Nah, tinggal kurakg 100rb. Mill nemu uang 100rb di deket WC. Ia dah bilang sama satpam. 3 hari, gak ada yang nyari. Mungkin memang dah rezeki Mill.
Tahun ini berjalan lancar, tinggal beberapa hari lagi pengumuman. Masih ada banyak waktu lagi yang mengharuskan Mill untuk berjuang. Mengikuti waktu menaati takdir. “Mill semangat... Terus berjuang!” batinnya menyemangati.
Kelas X hampir usai. Tapi, itu berarti, ia harus berpisah sama Zein. Karena mereka menginginkan jurusan yang berbeda Mill IPA dan Zein IPS.
Zein, asalkan kamu tahu. aku merasakan rasa itu lagi. Rasa yang dulu pernah ada buat orang yang berbeda. Rasa yang sudah Mill kubur dalam-dalam. Dan kini, rasa itu muncul lagi. Buat kamu, Zein. Aku tahu ini salah. Tapi, mau gimana lagi Mill gak bisa bohongin hatinya sendiri. Mill dah siap buat dapet tolakan dari Zein. Tapi, kalau buat jujur, ngomong langsung sama Zein. Mill gak tahu, kuat apa nggak.
Waktu yang dinanti pun tiba. Saatnya pembagian rapot. Hati Mill berdebar-debar. Sudah tak sabar menyaksikan hasil perjuangan Mill selama ini. Namun, disisi lain ia bingung dan ketakutan. Ia bingung tentang siapa yang akan mengambilkan rapot Mill? Maklum saja Mill sudah tak punya siapa-siapa. Dan wali kelasnya terbilang garang. “Mungkin, semester kemarin aku ijinkan kamu untuk mengambil rapotmu sendiri. Tapi, maaf Mill kali ini harus orang tua/ wali. Karena ada hal yang harus saya bicarakan,” kata wali kelas. Dan ia takut akan nilainya bila turun/semakin buruk.
Akhirnya, Mill memberanikan diri untuk berbicara kepada ibu kos untuk mengambilkan raportnya. Namun apalah daya, ternyata pada hari yang sama putri sang pemilik kos juga harus mengambil raport. Bukannya senang, ia justru mendapat semprotan kata-kata kasar dari ibu kos.
Mill juga tidak mungkin meminta bulek datang ke kota. Karena ia sudah terlalu banyak merepotkan buleknya. Ia tak ingin menjadi parasit untuk keluarga, dan orang-orang disekelilingnya.
Mill hanya dapat pasrah. Apapun yang terjadi ia akan menerimanya. Ia tak mengkonfirmasi dengan guru sekolahnya. Karena ia tahu, hal itu takkkan menyelesaikan masalah.
Hari pengambilan raport pun tiba. Hati Mill berdegup kencang. Disebelah Mill nampak seorang lelaki gagah tak terlalu tinggi yang biasanya iseng terdiam. Ia nampak begitu gelisah. Ya, dia adalah Zein.
“aduh, Milll kenapa kok perasaanku nggak karuan gini ya? Aku takuut. Btw, siapa yang nantinyamengambilkan raportmu?  ” tanya Zein
“Entahlah, mungkin kali ini aku takkan mendapat raport. Karena kemarin wali kelas sudah menyuruhku untuk mendatangkan ortu / wali. Yah, tapi apa daya aku nggak punya siapa-siapa.” jawab Mill
“Kok kamu nggak pernah bilang sama aku, sih.” Kata Zein yang lalu terdiam sejenak dan kemudian pergi menghampiri mobilnya. Setelah bercakap-cakap sebentar Mama Zein masuk kelas.
Jadi, dalam mobil tadi Zein memminta ibunya untuk megambilkan raport Mill. Kemudian ayah ibu Zein ada di dalam ruangan. Zein tidak memberi tahu Mill soal ini. Dan ternyata, Ibu Zein yang sudah mengenal betul Mill lewat cerita-cerita Zein mempunyai niat baik. Yakni membayarkan uang sekolah Mill sampai lulus.
Beberapa saat setelah itu hasil pun di umumkan. Betapa bangganya Mill ketika ia mendapat peringkat 1. Meski ia tak dapat mengantongi raportnya kembali, tapi perjuangannya tak sia-sia. Zein juga amat gembira setelah tahu, dia mendapat peringkat 5.
Akhirnya, ibu Zein pun menyerahkan raport Mill. Tapi, setelah di fotokopi. Betapa gembiranya Mill dapat menyentuh dan membaca raportnya. Ia sangatlah berterimakasih pada Zein sekeluarga.
Ibu Zein tak Cuma berniat membantu Mill sampai lulus. Melainkan, karena nilai Mill selalu diatas standard ia berniat mencarikan beasiswa buat Mill kelak.
Zein sangat beruntung memiliki keluarga berhati mulia. Terkadang perhatian ortu Zein membuat Mill iri. Dan seringkali membayangkan ortunya yang tlah tiada.
Namun, tak jarang Mill diperlakukan seperti keluarga Zein. Seperti putri dari ayah ibu Zein. Dan hal-hal seperti itu, yang membuat Mill kuat. Dan Mill sadar, masih banyak orang yang mengharapkannya menjadi orang hebat.
Kini, setahun sudah kebarsamaan Mill dan Zein sebagai sahabat. Sahabat yang teramat dekat. Semua rasa tlah dilalui bersama. Suka duka, sedih gembira. Tiba saat perpisahan. Meski mereka berada di sekolah yang sama, mereka akan jarang bertemu, bercakap, dan melakukan hal-hal yang  menyenangkan bersama.
Sore itu, Zein mengajak Mill ke suatu tempat. Tak seperti biasanya senja yang mereka habiskan di perpustakaan atau tempat-tempat klasik lainnya. Kali ini mereka berada di sebuah taman nan asri. Tempat yang sama dimana  Zein membuat kejutan buat Marsya. Tempat yang menyakiti Mill. Yang membuat hati Mill berdarah menahan perih. Tempat penuh kenangan penuh sejarah.
“Mengapa kau mengajakku kesini Zein?” tanya Mill sembari menyembunyikan ke kalutannya.
“Tidak, aku hanya ingin melepas penat. Melepas semua masalah. Bersamamu.... “ Zein menjawab
Mereka duduk di kursi putih panjang yang hanya cukup untuk dua orang. Hati Mill bergejolak. Saat itu, ia mencoba menenangkan diri. Membuka lembaran buku yang sama sekali tak dibacanya. Apa mungkin ini saaat yang tepat bagi Mill untuk menyatakan perasaanya? Entahlah, tapi Mill belum yakin kalau yang dirasakannya cinta atau bukan.
“Mill, terlalu banyak masalah yang terjadi dalam hidup ini. Tapi, mengapa kau selalu terlihat kuat?” tanya Zein
“Kau tahu sebenarnya aku rapuh. Aku kuat karenamu Zein” jawab Mill
“Maksudnya?” Zein tak mengerti.
Mill menarik napas panjang. Mencoba menguatkan dirinya. Mencoba mengungkapkan kekalutan hatinya selama ini.
“ Zein, aku ingin membuat pengakuan. Kalau selama ini ada yang salah dengan diriku. Entah apa, aku pun tak tahu. Aku tak sadar. Ini mengenai kedekatan kita sebagai sahabat. Kau tahu, aku ini perempuan lemah. Yang tak mampu menyimpan rasa ini lebih lama lagi. Mungkin, ini waktu yang tepat untuk aku mengakui segalanya. Kalau sepertinya aku menyimpan rasa lebih buat kamu. Aku tak tahu ini cinta atau apa. Tapi, aku tidak ingin menodai persahabatan kita ini dengan rasaku. Aku harap, pengakuanku tak merubah apa-apa. Aku hanya ingin kau tahu yang sebenarnya. Agar aku lega. Agar tak ada rasa yang harus kututup-tutupi lagi. Kau boleh marah, bahkan kau boleh tak mau mengenalku. Tapi, itu bukanlah pilihan yang bijak.” ungkap Mill
Beberapa detik berlalu hening.. hingga Zein membuka mulutnya
“Mill, aku paham. Dan aku takkan marah. Kuhargai kejujuranmu. Kau tahu, cinta selalu datang sesuka hati dan terlalu sering pergi tanpa pamit. Aku dengan harapanku yang tlah rapuh oleh Marsya. Kini, kau ada bersamaku. Meski aku belum bisa menghapus Marsya dari relungku. Aku tak ingin menyakiti, seperti Marsya yang menggoreskan luka dihatiku. Dan kita adalah sahabat. Dan akan tetap menjadi sahabat. Entah sampai kapan Mill. Tapi, aku nyaman berada di sisimu sebagai sahabat, dan aku takkan melepasmu.” Ungkap Zein
Mereka terpaku. Memilih diam daripada mengucap kata. Mereka menikmati senja. Bersama langit, dan diri yang terluka. Mereka tak melupakan asa. Asa yang selalu mereka bawa. Asa yang menjadi berharga. Dalam senja mereka membuang peluh. Memimpikan asa menjadi kenyataan.
“Zein, bentar lagi kita akan berpisah. Menempuh jalan masing-masing. Aku takut, kau akan pergi jauh Zein.” Mill
Zein tersenyum, “Tidak, aku takkan pergi. Aku takkan melupakan perempuan tangguh sepertimu. Meski kita beda kelas, kita akan selalu bertemu. Bagaimana kalau setiap sabtu sore kita ke sini. Agar kita tak saling melupakan. ”
“Setuju” Mill mengacungkan kelingkingnya.
Mereka, tak saling membahas lagi mengenai cinta. Karena persahabatan yang tlah mereka bangun selama ini adalah sesuatu yang mutlak. Mereka menjalani hari seperti sebelumnya. Penuh tawa, penuh kebahagiaan. Tak selamanya cinta menyatukan dua insan. Cukup dengan persahabatan mampu mengikat hati.
Mereka saling menjaga. Apalagi setelah Zein tahu perasaan Mill mengenai dirinya. Mereka saling menguatkan, saling meyakinkan.Zein yang tak mau melukai hatinya lagi karena cinta. Mill yang mampu memendam rasa, tanpa ingin sesuatu yang lebih. mereka menjadi dua insan yang tangguh akan cinta.
Mulai saat itu Mill terlihat lebih lega setelah menyatakan perasaanya. Ia sekarang mampu berbaur dengan yang lain. Ia memulai ikatan pertemananya lebih jauh.
    
2016
    
    
    
    
Karena Mill dan Zein sudah tidak satu kelas lagi, mereka lebih sering mengawasi secara diam-diam satu sama lain.
*Aku tak tahu sampai kapan rasa itu ada pada Mill,
Entah akan bertahan, atau pudar bersama waktu,
Aku tak tahu bagaimana perasaan Zein nantinya,
Yang jelas, mereka sudah saling bahagia *


 
            Milly yang dalam buku sebelumnya dikisahkan sebagai siswi yang tegar dan kuat, pendiam namun sebenarnya menginginkan banyak hal. Mimpinya yang terlalu kuat, menghantarkannya menuju kehidupan yang tiada apa-apanya. Semua yang terjadi dianggap seperti angin yang berlalu. Ia tak mencari apa-apa. Hanya sebuah kesuksesan dunia akhirat. Dai ia ingin diakui menjadi salah satu dai sekian orang hebat.
            Kali ini, Mill memasuki kelas XI. Yah, setahun sudah Mill berjuang meraih apa yang dicita-citakannya. Sekarang ia hadir ditengah-tengah anak IPA. Pelajar yang sudah dibedakan satu dengan yang lain. Terlihat raut wajah bahagia menghiasi mimik mereka. Tak terkecuali anak IPS. Sepertinya, beberapa dari mereka ada yang terpaksa menjalani harinya, namun sekarang kekecewaan itu sudah terobati. Berganti menjadi tawa. Entah itu asli atau hanya sandiwara.
            Mill terlihat lebih ceria dari biasanya. Entah kenapa, yang jelas kebahagiaan yang diraasakan Mill diiringi kebahagiaan siswa-siswi yan lain. Zein pun nampak bahagia. Melontarkan senyum manisnya pada indahnya dunia. Zein bergabung dengan teman-temannya. Menjalin tawa, perpisahan yang sebentar lagi akan terasa beratnya.
            Hari itu, pembagian kelas pun dilakukan. Mill masuk kelas XI IPA1 dan Zein kelas XI IPS 1, Kebetulan letak keduanya berdekatan, berhadapan malah. Kini, Mill sudah lupa. Lupa tentang perasaanya pada Zein yang lebih dari sahabat. Kini, Mill hanya mau fokus sekolah. Supaya nantinya keinginan terbesar Mill tercapai.
            Berasa seperti anak baru, di kelas XI ini semua malu-malu. Maklum baru beberapa hari. Mungkin masih butuh waktu untuk saling mengenal. Mill sama sekali tak tahu nama teman-temanya. Stupun tak tahu. Yang ia tahu adalah anak jenius itu. Yah, Edo namanya. Sayangnya Edo tak mengenali Mill. Mill pun merasa kesepian. Kerap kali Mill menemui Zein hanya untuk berceloteh hal yang tak penting. Mereaka pun terlihat seperti sepasang kekasih.
            Beberapa hari belakanan ini, Zein mulai sibuk. Sibuk dengan berbagai kegiatannya. Sibuk dengan dunianya, hingga Mill terabaikan. Tak apa, rasa itu sudah tiada. Milll adalah sahabat Zein. Yang nantinya mereka akan berpisah. Anggap saja, kali ini Mill sedang dilatih untuk tidak bergantung pada Zein. Mill harus menemukan dunianya sendiri.
            Di kelas, Mill cenderung menghabiskan waktu untuk membaca cerita atau merenung. Hal ini menyebabkan Milll sedikit terasing. Berkat hobi Mill yang tak banyak orang menyukainya Mill menjadi pribadi yang lebih pendiam dari sebelumnya. Tepatnya bukan pendiam sih, hanya saja karena Mill belum menemukan orang yang mampu membuatnya nyaman, namun, hobi ini pula yang membuat Mill berbeda dari yang lain. Terlihat tatapan beberapa siswa dikelas Mill berbeda. Seakan menyimpan rasa. Mill  tak mau mendahului kehendak Allah. Tak mau menyebutnya rasa cinta,
            Kala itu, lagi-lagi kelas sepi. Haya ada Mill, Joseph, dan Edo. Seperti biasa, Mill sibuk membolak-balik buku kesayangannya. Kali ini cerita romance yang dibacanya. Joseph sibuk pada handphonenya. Sepertinya, ia memainkan game. Edo sendiri tidak melakukan apa-apa. Tepatnya sih, melamun. Entah tengah memikirkan apa, yang jelas Edo begitu menikmati lamunannya.
            Mill teringat, saat-saat yang hampir sama dengan ini. Tepatnya setahun lalu, ketika Mill dan Zein berada dalam satu ruangan tanpa ada siapa-siapa. Yang kemudian dari situ rasa itu tumbuh menjalar dalam hati Mill. Mill tak ingin luka lagi. Ia memilih untuk menjauh. Lebih baik tak mengenal cinta, daripada nantinya hanya akan terluka karenanya. Ya, Mill meninggalkan kelas. Meninggalkan Joseph, Edo dan cerita romance yang baru saja dibacanya. Mill tak tahu mau kemana. Yang jelas Mill mau mengukir sesuatu yang baru.
            Mill berjalan, menyusuri lorong kelas 11. Atau lebih tepatnya Mill hampir mengitari sekolah. Mill memandang kanan dan kiri. Dilihatnya siswa-siswi sibuk dengan urusannya sendiri. Namun, tidak hanya itu. Mill mendapat sebuah keganjalan. Mill melihat sekumpulan remaja duduk melingkar agaknya membahas tentang kehidupan. Di dalamnya ada Lena (salah satu siswi yang dulnya sekelas sama Mill, maaf kalo nggak pernah denger masalahnya Lena itu biasa-biasa aja).
            Mill berhenti sejenak, duduk diatas kursi coklat panjang di depan kelas XI IPA 5. Letaknya tak terlalu jauh dari kumpulan anak tadi (Lena dan teman-temannya). Mill pandai. Pandangan Mill diarahkan jauh menghindari mereka. Padahal konsentrasi terbesar Mill adalah mereka. Ketika tengah asyik mendengarkan obrolan mereka, Mill terpaksa harus kembali ke kelas. Karena guru mapelnya sudah datang.
            Ini kali pertama Mill telat masuk kelas. Dan sebagai sanksinya, Milll dihukum tak boleh mengikuti pelajaran. Mill duduk di depan kelas. Melamun, memikirkan apa yang tlah ia lakukan. Milll menyesali perbuatannya. Tiba-tiba Mill dikagetkan oleh suara berat yang memanggil nama Mill.
            Ternyata itu Joseph. Ya, si lucu dan pembuat hal-hal kecil yang menarik untuk dikulik.
            “kok nggak masuk, Mill ?”
            “iya, aku telat. Lalu dihukum suruh ke luar.”
            “ oh ”
            Keadaan kaku sebentar. Hingga mereka memulai pembicaraan bersamaaan.
            “ kamu nggak coba masuk dulu ?”
            “ enggak, mau disini. Nemenin kamu. Kasihan kalau ditinggalin nanti diambil orang. ”
            “ lucu  hehe. ”
            “ Mill, kamu nggak bawa buku ?”
            “ nggak kepikiran.”
            Mereka pun saling membicarakan mengenai diri mereka masing-masing. Yah, tentang Mill dan kehidupannya. Tentang Joseph dan beberapa hal unik tentangnya. Tatapan itu lagi. Tatap yang berbeda, sorot mata yang tajam dan seertinya disertai rasa. Mill menghindar. Hati Mill berdegup kencang, ingat! Mill tak akan rapuh karena cinta.
            Hari demi hari merganti. Tak ada yang istimewa. Semua nampak sama.seperti sebagaimana seharusnya. Perasaan Mill sudah stabil. Beruntung Mill belum jadi curhat sama Zein. Mau jadi apa kalau Zein tahu ? ah sudahlah...
            Suatu ketika ada tugas b. Jawa simple sih Cuma suruh nyanyi. Alhasil, Mill tak dapat pasangan karena memang biasanya begitu. Mill sudah biasa. Kemudian Mill dipasangkan dengan Dafa, yah anak yang sok keren (walaupun banyak yang bilang memang kerren sih). Mill takut Dafa tak akan respon. Atau bahkan, tak mau menjalankan tugasnya.
            Akhirnya, Mill berbincang dengan Daffa. Daffa begitu baik, supel dan yang pasti tak seperti bayangan Mill yang ganas dan menyeramkan. Bahkan kelompok Mill selesai paling awal. Kala itu, Mill memang sedikit kesulitan untuk menyamai suara Daffa yang terbilang merdu. Tapi tak apa berbeda itu istimewa. Sejak saat itu, Mill tak lagi mau menilai orang dari covernya.
            Mill sudah mulai biasa berkawan dengan siapa saja. Entah itu cowok yang cool yang bandel semua adalah teman Mill. Mill rasa, sekian lama ini adalah proses pendewasaan diri Mill. Pengalaman cintanya dengan Zein yang berujung kandas tapi bahagia adalah sesuatu yang sangat berharga buat Mill. Kini, Mill lebih santai menapakii kehidupan. Menjalani dengan sebagaimana seharusnya. Masalah biaya pun, Mill sudah tak terlalu repot. Karena sekolah sudah membebaskan biaya administrasi sekolah Mill sampai tamat SMA. Mill tinggal memikirkan bagaimana bertahan hidup ditengah kota yang keras itu.
            Mill menjadi pribadi yang lebih terbuka. Ini berkat Joseph. Nanti akan kujelaskan. Keterbukaan Mill mengakibatkan Mill semakin dekat dengan kawan-kawannya. Mill pun tak pelit-pelit membagikan ilmu yang ia punya untuk orang lain. Begitu pula jika Mill kesusahan. Sayangnya sifat pemalu di diri Mill tak sepenuhnya hilang. Jika Mill kesulitan, Mill hanya berani bertanya pada sebagian orang saja. Joseph salah satunya.
            Baiklah, akan kujelaskan siapa itu Joseph dan bagaimana ia mampu mengubah Mill.
            Joseph adalah anak kedua dari 3 bersaudara. Kakaknya (Marina) telah menikah setahun lalu. Adiknya masih belia. 5 tahun. Nono namanya. Keluarga Joseph keluarga yang terbilang harmonis., menurut kebanyakan orang. Ayah Joseph seorang tentara AU. Ibunya penjual kue kering. Yah itu sepintas tentang Joseph. Biar lebih gampang kusebut Jo.
            Jo orang yang supel, tapi tidak dengan wanita. Jo sering membuat hal-hal unik yang akhirnya memecahkan tawa. Jo selalu tampak ceria. Kala itu, Jo menjadi bulan-bulanan temannya. Tak ada sedikitpun dendam yang tersirat di muka Jo. Justru tawa itu meledak.
            Senin itu, sehabis olahraga Mill duduk bersandar dibawah pohon sendirian. Jo lewat...
            “ Hai Mill. ”
            Kali itu pertamakalinya Jo menyapa Mill.
            “ Iya Jo. Bawa apa kamu ?”
            “ Ini es teh. Mau ?”
            “ terimakasih, beli dimana ? ak mau beli saja.”
            “ tuh di depan. ”
            “ya udah aku ke depan dulu”
            Tak lama kemudian Mill kembali tak membawa apa-apa.
            “yah, udah habis Jo”
            “ nih, buat kamu aja. Kalo mau sih. Hausku dah hilang kok.”
            “ ya, sini.. aku mau. Makasih Jo”      
“ oke. Kelas yuk ?”
“ ya kalau dah habis. Bentar. duluan aja,”
“nggak mau”
Akhirnya mereka ke kelas bareng. Pertemuan klasik bukan ? gara-gara ini Mill berubah ? tentu tidak. Sehabis ini, Jo nge chat Mill lewat salah satu medsos. Dirumah tapi. Lalu, Mill respon dengan baik. Mill dan Jo serasa nyambug. Walaupun jo Cuma nanya materi tapi, mereka nyambung banget. Mereka diskusi tentang beberapa hal.
Nah, kala itu Mill dan Jo diskusi tentang masalahnya masing masing serta solusinya.
Awalnya, Jo meminta pendapat Mill tentang sifat dan perilakunya di kelas. Yah, Mill yang polos, semua dijawab secara jujur. Mill bilang Jo terlalu aktif. Bagus sih, Cuma Mill kurang suka. Mil bilang Jo keren. Sabar. Baik. Yang pasti Mill suka humornya Jo.
Dari situ Mill mulai terbuka. Jo adalah orang kedua setelah Zein yang Mill percaya mampu menyelesaikan masalahnya. Curhatan Mill mengalir. Lancar-lancar saja. Tanpa ada rasa nggak enak atau apapun. Yang Mill rasa Mill nyaman bercengkrama dengan Jo. Sebatas teman lo ya. Mill pun kan berubah mengikuti sifat Jo yang gampang bergaul. Salah satu sebab teman Mill bertambah adalah Jo. Kedekatan Mill dan Jo kini menandingi kedekatan Mill dan Zein. Hingga suatu hari...
“ Miill, kamu nganggur nggak ? lama kita nggak bareng- bareng. ” Zein
“ iya, nanti sore ?”
“ boleh, tempat biasa ya.”
“siap.”
Sore itu ditempat yang sama, sekitar 3 bulan lalu Milll dan Zein mengukir janji untuk tak saling melupakan. Apapun yang terjadi. Zein sudah menunggu. Mill datang dengan raut muka yang kian ceria. Duduk, lalu menyapa. Berbasa-basi, kemudian masuk ke ranah yang serius.
“ Mill, kukira kau melupakanku.”
“ Tidak. ”
“ sudah hampir sebulan kita tak ke sini.”
“ bukankah, kamu yang terlalu sibuk sehingga tak bisa datang menemuiku ?”
“ ya, tapi kenapa kamu tak pernah lagi menemuiku di kelas ? ”
“ Zein, aku perempuan. Tak sepantasnya aku ke kelasmu terlalu sering. Telingaku muak dengan perkataan teman-temanmu yang seakan merendahkanku.”
“oh, maaf Mill. ”
“ tak apa. Bagaimanapun, kamu pernah menjadi orang terindah dalam masa laluku. Aku tak ingin menghapusnya. Tak mau membuat luka. ”
“ Mill, kamu sudah menemukan penggantiku ?”
“pengganti apa ?”
“pengganti tentang rasa yang pernah kau beri untukku.”
“ kamu tahu Zein, yang namanya sahabat tak akan pernah tergantikan. Kalaupun aku punya sahabat baru. Tak ada salahnya kan ?”
“ iya Mill. Tak apa. Tapi yang ku maksud bukan itu”
Muka Mill memerah. Seakan teringat sesuatu.
“ Oh, aku tahu. Yang itu. ”
“ Mill, apa kamu masih menyimpan perasaan yang sama ?”
“ Zein, soal rasa itu aku sudah lupa. Aku sudah membuangnya jauh dari pikiranku. Kini, aku menganggapmu sama seperti awal kita menjalin persahabatan, tanpa rasa.”
“jujur aku mulai mersa ada yang hilang dari diriku akhir-akhir ini. Dan kukira itu karena aku jauh darimu.”
“Mungkin kamu merindukanku.. haha.. Kalau kamu rindu datang saja ke kelas. Sekarang aku mulai nyaman berada disana. Aku mulai menikmati keadaan. Menyayangii kawan-kawanku.”
“kamu berbeda Mill.”
“ya, memang. Tapi, kurasa itu lebih baik.”
“oiya, Mill siapa sahabat baru mu ?”
“banyak. Tapi ada satu yang mirip kamu. Namanya Jo”
“mirip gantengnya ?  Jo siapa ?”
“ emang kamu ganteng ? haha. Joseph”
“Oh, iya. Dia baik.”
“kamu sendiri, bagaimana di kelas ?”
“ kurang baik. Aku lebih suka kelas kita yang dulu. Ada kamu.”
“Yee, kamu mah”
Senja itu terulang lagi, senja yang indah tanpa rasa itu. Tanpanya pun senja tetap indah. Apalagi, bersama sepasang sahabat yang masih akur. Bukannya Zein sama Mill nggak pernah punya masalah loh ya. Yang namanya sahabat pasti nggak akan selamanya mulus, hanya saja, mereka cukup cerdas menyikapi masalah itu.
Kemudian, hari itu tugas menumpuk begitu banyak. Dari guru killer lagi. Mill kali ini lalai. Ia tak mengerjakan separuh dari tugasnya. Malam itu, Mill kecapekan. Warnet pun sudah tutup. Alhasil, nilai Mill tidak tuntas.
Kebetulan itu maple fisika. Dan Jo termasuk anak yang gemar fisika. Akhirnya guru Killer itu menyuruh Mill belajar bersama Jo dan mengumpulkan tugas barunya. Ini kali pertama Mill menjadi seseorang yang harus diajari. Dan bukan dengan orang professional.
Sore itu di perpustakaan. Mill sudah menunggu 20 menit. Rasanya Mill jengkel pada Jo yang tak kunjung datang.
“hai Mill udah lama?”
“hmm, kira-kira?”
“maaf ya, saya dari remidi matematika.” Jo tersenyum.
 “ya gapapa” Mill tak bisa marah sama Jo
“kok kamu bias dapat C  ? Kamu kan siswi pandai”
“sedang tidak beruntung”
Mereka pun belajar bersssama. Ditengah- tengah kebersamaan mereka Jo berceletuk.
“Mill. Boleh Tanya sesuatu?”
“apa”
“soal kamu dan zein”
“mengapa memangnya?”
“kalian pacaran ya?”
“tidak” mill tertawa
“oh. Kulihat kalian begitu dekat.”
“ya, dekat bukan berarti pascaran kan. Dia sahabat yang baik.”
“bagaimana bias dekat, kurasa kamu pendiam.”
“Zein itu supel. Semua orang dekat dengannya”
“kenapa aku tak bias seperti itu ya?”
“orang itu kan beda-beda.”
“iya sih, tapi jadi nggak bisa deket sama kamu deh.”
Tugas fisika pun akhirnya beres. Sekarang tinggal bahasa Inggris. Dan Mill harus berhadapan dengan Edo. Ya, si jenius itu. Entah mengapa, akhir-akhir ini nilai Milll tidak stabil seperti dulu. Mungkin, agar Mill bisa merasakan jadi mereka.
“Yo Mill mulai belajar. Aku Cuma punya waktu setengah jam”
Waktu itu, pulang sekolah. Mill belum sempat makan. Mau menolak tapi tidak enak sama Edo.
“iya”
Mill itu cerdas semuanya iya cepet paham. Walau kadang harus membaca berulang-ulang.
“udah paham?”
“udah”
Mill sudah tidak bertanya lagi. Otak Mill sedah lelah. Walaupun Mill masih mengganjal pada satu sub bab, tapi lupakan. Waktu tersisa 10 menit.
“Edo, boleh Tanya ?”
“apa? Asal tak lebih dari 10 menit”
“soal Jo. Dia itu orangnya gimana?”
“kamu suka?”
“tidak hanya ingin tahu aja”
“baiklah, akan ku beri tahu sedikit tentang Jo. Aku dan Jo sebenarnya tak terlalu dekat. Dia baik, lucu, menurutku pantas untukmu”
“kamu ini ada-ada saja”
“tapi, yang perlu kamu tahu. Jo itu banyak yang naksir. Kalo kamu salah satunya, maka siapin hati dan fikiran. Karena yang baik belum tentu tak menyakiti.”
Sore itu, Mill melamun. Sipa kiranya yang menyukai Jo selain dirinya. Siapapun itu, ia adalah orang bersudut pandang positif.
Tak lama setelah itu, Mill pun tahu siapa yang memiliki perasaan pada Jo. Dan ternyata gak Cuma satu dua. Banyak. Dan salah satu dari mereka adalah teman dekat Mill. Mill pun mengubur perasaannya. Tak mau menyakiti siapapun dalam hidupnya.


     I
[Year]
    
    
    
    

 
Tiba saatnya Mill menjalani perjuangan terberatnya di SMA. Yah, kelas XII. Masa yang sepertinya tak akan ada kisah haru, tawa kenangan manis tentang cinta. Awalnya terbelesit dipikiran Mill bahwa kisahnya yang berwarna tlah berakhir. Ia akan lebih sering belajar untuk menghadapi ujian. Tapi, Mill salah. Justru ia mengukir rasa yang semakin dalam pada seseorang yang tak pernah ia duga. Bukan Zein pastinya.
Kala itu, kelas Mill sudah berubah lagi. Tanpa Zein, tanpa Jo, tanpa sahabat-sahabat Mill. Mill merasakan kesendirian itu lagi. Tapi, lama-lama juga rasa itu hilang sendiri. Milll menempati kelas XII IPA 2. Kelas itu penuh dengan humor, tapi tak mampu membuat Mill bahagia. Bahkan tersenyum pun tidak.
Dulu, si humor dikelasnya adalah Jo, yang dengan ringannya melontarkan kata dan mampu membuat semua tertawa. Mill ingat betul setiap kata serta nada suara yang pernah Jo lontarkan. Ingat pula bahasa serta ciri khas chat Jo. Namun, kini mereka lost kontek. Walaupun kelas mereka deket tapi mereka jarang bertemu. Sepertinya Jo mulai fokus dengan sekolahnya.
Suatu ketika, rasa rindu mengisi relung hati Mill. Ya, sosok yang selalu menjadi teman sekaligus semangat Mill belajar menghilang tanpa kabar. Ya, Mill merindukan chat dari Jo. Akhirnya, Mill pun tanpa sadar mengirimkan pesan pada Jo
“assalamualaikum Jo”
“waalaikumsalam”
“apa kabar ?”
“baik. Kamu?”
“baik juga”
“tumben kamu nge-chat aku. Ada apa?”
“gak ada apa-apa. Gak boleh ya?”
“iya bukannya gitu,”
“lagi sibuk ?”
“enggak ”
“oh”
“:v”
Selalu begitu. Namun sekarang justru Mill yang lebih banyak nanya soal pelajaran ke Jo. Mill nyaman. Bahkan ketika masalah Mill terlalu besar, Ia membaginya ke Jo. Mill juga kerap kali berdiskusi tentang pelajaran bersama Jo. Ia sangat baik.
Jo, sosok yang agak pendiam, kalem, tapi selalu menyimpan misteri. Ia terlalu indah untuk dijadikan teman. Siapapun yang telah mengenalnya akan merasakan hal yang sama seperti Mill. Entahlah, padahal banyak yang lebih baik dari Jo. Tapi kedamaian itu hanya ada bersama Jo. Kedamaian yang mirip sperti didekat Zein. Tapi, ini berbeda. Mill tak mengerti, padahal Jo adalah sosok yang tak pernah terfikir. Ia kekanak-kanakan tapi dewasa.
Hari demi hari berganti. Semakin lama semakin berat. Rasa yang harus Mill sembunyikan. Dan beban keluusan yang ada di pundak Mill.
Adanya Jo dalam hidup Mill membuat motivasi tersendiri dalam hidup Mill. Ia tak boleh mengecewakan Jo. Ia harus mendapat yang terbaik dalam prestasinya. Ia haru menjadi yang pertama. Ia ingin membuat orang-orang disekitar Mill bangga akan pencapaiannya.
Jo, see you on the top
Hingga hari kelulusan tiba, Mill menyimpan rasa pada Jo. Mill pun berpisah dengan Jo, meninggalkan warna-warni masa SMA yang penuh misteri.
“selamat Jo”
“kamu juga”
“rencana kemana? Jadi ke AU?”
“Iya. Kamu? Jadi ambil kedokteran?”
“iya”
“sukses ya”
“ amiin.. jo boleh aku bilang sesuatu?”
“apa?”
“tapi kamu jangan marah, jangan ketawa, janji?”
“iya”
“jo, maaf aku telah menyimpan rasa padamu. Sudah sejak lama. ”
“maksudmu?”
“ah, sudahlah lupakan. Aku tak bisa memperjelas ucapanku.”
“tunggu Mill. Aku paham. Kau tahu, aku pun merasakan hal yang sama. Namun, aku tak bisa mengungkapkan apapun. Aku tak bisa mengikat janji apapun.”
“benarkah perasaan itu tulus dari hatimu?”
“tentu. Dan tak kusangka orang sepertimu menyimpan rasa untukku”
“iya, setidaknya aku lega. Telah mengungkapkan dan mengetahui rasamu”
“iya aku juga”
“boleh aku minta sesuatu?”
“apa? asal bukan hatiku.”
“aku ingin foto sebagai kenangan kita. Dan, aku ingin kau membawa pulang kesuksesan untuk dunia”
“yang pertama bisa kuturuti. Yang kedua?? Kurasa dapat kurealisasikan dalam mimpiku dulu.
            Mereka pun menjalani hidup mereka masing-masing. Mereka mengejar mimpinya untuk menjadi sukses, dan suatu saat dapat membagi kesuksesannya satu sama lain. 


Lagi-lagi cinta lebih baik berujung pada persahabatan. Tak akan ada yang namanya mantan sahabat atau  mantan teman.  Tak akan ada kata putus. Tak akan ada kata menyakiti atau mengingkari janji. Karena sahabat akan selalu menjadi yang terindah. Sekarang, esok dan selamanya




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Topik 6 Aksi Nyata PSPI

  Topik 6 Aksi Nyata Perspektif Sosiokultural dalam Pendidikan Indonesia Nama          : Maghfiroh Izza Maulani NIM             : 230809...