|
|
|
|
|
|
|
qbdjk
|
|
Cerita Panjang hampir jadi novel
cerita/ce·ri·ta/ n 1 tuturan yang membentangkan bagaimana terjadinya suatu hal (peristiwa, kejadian, dan sebagainya): itulah -- nya ketika kami mendaki Gunung Sumbing; 2
karangan yang menuturkan perbuatan, pengalaman, atau penderitaan orang;
kejadian dan sebagainya (baik yang sungguh-sungguh terjadi maupun yang
hanya rekaan belaka); 3 lakon yang diwujudkan atau dipertunjukkan dalam gambar hidup (sandiwara, wayang, dan sebagainya): film ini -- nya kurang bagus; 4 ki omong kosong; dongengan (yang tidak benar); omongan: (sumber https://kbbi.web.id/cerita)
novel/no·vel/ /novél/ n Sas karangan prosa yang panjang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang di sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku; (sumber https://kbbi.web.id/cerita)
Tak
selamanya cinta berujung manis. Jatuh cinta memang manis. Namun patah hati
itu sakit, perih. Banyak yang memilih menjadi sahabat daripada menjalin
cinta. Karena sahabat memiliki posisi tersendiri, yang terkadang
menggantikan cinta.
berikut adalah novel karya saya yang bersfat imajinatif. selamat membaca kawannn.. semoga terhibur
|
MILLY
SMA
bukanlah tanda jadi dewasa. Bukan kebahagiaan dan bukan pula merangkai masa
depan. Itulah yang dirasakan Mill. Yang kini baru menjalani MOPDB atau biasanya
dikenal dengan MOS. Mill, sejak dari SMP memang sosok pendiam. Itu sebabnya,
temannya tak banyak. Berasal dari sekolah desa tak menyurutkan mentalnya tuk
mencoba sekolah di kota.
Ya,
Mill berasal dari desa. Dari keluarga sederhana yang juga sangat mendukung
keinginannya. Peduli pendidikan. Mill adalah anak tunggal keluarga
Atmajaya-Marinah. Jadi, mau tidak mau, Mill harus sukses. Demi dirinya, demi
orangtuanya..... ah, malah jadi bahas masa lalu. Lanjut ke topik.
Hari
pertama MOS ia tak banyak komentar. Seperti murid pada umumnya, ia memenuhi
semua yang di perintahkan kakak OSIS. Tanpa mengeluh, Mill melakoni semuanya. Mill
beruntung tak biasanya MOS sesimple ini. Tapi, no problem.
Hari
berikutnya, Mill mendadak sakit. Sepertinya karena belum terbiasa makan makanan
kota. 2 hari berturut turut ia tak masuk. “Tak apalah, tak usah ikut MOS”,
pikirnya. Tapi masalahnya kalau ia sakit, bagaimana ia bisa berobat? Ah,
sudahlah. Semoga besok lekas sembuh.
Seminggu
berlalu. Ternyata hidup tanpa didampingi orang tua tak
semudah yang Mill bayangkan. Mill rindu mereka. Tak jarang Mill menangis di
kosan. Di sekolah pun ia sering duduk termangu sendirian.
Kebetulan
anak sebangku Mill, tak terlalu ramah. Namanya Jessie. Maklum, ia lebih deket
sama cowok daripada cewek. Ya, agak tomboy gitu. Mill di SMA gak punya temen
deket. Adanya ya Cuma temen yang deket saat perlu aja. Habis itu kalau dah gak
butuh tinggalin deh.
Jessie
itu orangnya gampang buat bergaul kepada siapa saja. Berbanding terbalik dengan
Mill. Yang bahkan, tak berani menyapa jika tidak didahului menyapa. Jessie
sangat baik pada Mill. Seringkali Mill diajak bercengkrama bersama temen yang
lain. Namun, Mill sering kali menolaknya. Mill tidak cukup berani untuk
bergabung bersama mereka.
Kala
itu kelas sepi. Tak sadar, Cuma ada Mill dan seorang cowok tak terlalu tinggi.
Cowok itu main game dengan asyiknya. Sampai ia sadar, tak ada lagi orang di
sampingnya. Cowok itupun keluar. Tapi gak ada orang juga. Tak ada pilihan lain.
Akhirnya, ia bertanya pada Mill.
“Pada
kemana sih?” si cowok mendekati Mill.
“Emm,
aku gak tahu” jawab Mill.
Nah, dari situ
mereka mulai deket. Dari yang sama sekali gak punya temen, jadi punya teman
cowok. Mereka saling kenalan bertukar pikiran. Cowok ini asyik banget di ajak
ngobrol.
Sekarang kita
tahu, anak cowok itu namanya Zein. Ia memang terkenal iseng, ia ikut kurang
lebih 10 ekskul. WAW,,,amazing. Mill
baru kali ini bisa ngobrol sama cowok. Bisa deket gini. Apalagi buat tempat
curhat.
“Mill, aku boleh
cerita sesuatu gak?” tanya Zein
“Apa? Ngomong
aja,” jawab Mill
“Aku lagi suka
sama seseorang. Menurutmu, wajar gak kalau baru seminggu tapi aku udah bisa
rasain cinta.” Zein
“Menurutku sih,
wajar-wajar aja. Karena cinta tak memandang lokasi. Tak pula memandang
waktu.Tapi, saranku kamu jamgan buru-buru ngomong langsung sama dia. Pendem aja
dulu. Yakinin dirimu, apakah kamu bener-bener suka sama dia. Atau justru cuma
pelampiasan. Atau malah Cuma baper doang.
Ya, setidaknya 1 atau 2 bulan. ” Mill
“okay deh. Gue
coba. Thanks ya..” Zein
Zein pergi ke
luar. Meninggalkan Mill dengan segala keraguannya. Ketidakmampuannya untuk
berbicara di depan umum membuatnya gugup dan gemetar, waktu ditanyai sama Zein.
But, Mill seneng banget.
Sebulan
setelahnya, tersiar kabar kalau Zein punya pacar. Sekelas juga sama Mill dan
Zein. Namanya Marsya. Cewek hits, cantik, feminin dan super duper gaul itu
menerima Zein. Yang 3 hari lalu nembak dia. Tapi, apa Marsya memang beneran
cinta? Ah, masa bodoh. Bukan urusan Mill.
Di sekolah ini, Mill
ikut beberapa ekskul. Mikirnya sih, buat nambah temen. Tapi, ya emang dasarnya
Mill susah deket sama orang. Hehe. Ia mengikuti ekskul yang sama kayak Zein.
Journalistik.
Di journalistik,
Mill tambah deket sama Zein. Cerita bareng, ke perpus bareng,buat video bareng,
dan yang pasti ngerjain prokja bareng. Tapi, Mill harus inget kalau Zein dah
punya pacar. Bahkan, Mill sering menjadi tempat curhat Zein tentang Marsya.
Barusan nge-date lah, dinner lah, bahkan berantem juga. Dan
entah mengapa, Mill tak terlalu suka akan hal itu.
Suatu ketika,
saat kumpul journalist acara tak kunjung dimulai. Zein mendekati Mill. “Mill,
apa barang yang paling kamu suka? Yang kamu bakalan seneng kalau di kasih sama
cowok ganteng kayak aku gini?” tanya Zein dengan nada percaya dirinya.
Mill tersipu
malu. Jangan-jangan Zein mau beliin sesuatu buat Mill. Tapi, jangan GR dulu
deh. “Memangnya kenapa?” tanya Miil
“Emm, lusa adalah
hari paling bersejarah. Karena Marsya ulang tahun.” Zein menjelaskan.
“oooh” Beruntung,
tadi Mill tak buru-buru jawab. “Kalau buat Marsya apaan yaa? Sepertinya ia
sudah punya segalanya. Entahlah, kebanyakan wanita suka mawar dan coklat.” Mill
“Ok. Thanks
banget yaa.. Oiya, besok bisa bantuin aku ga? Dateng aja ke taman habis pulang
sekolah.” Zein
“Iya. Tapi aku
nggak janji.” Mill
Hari berikutnya,
ualng tahun Marsya. Sengaja Zein pura-pura lupa dan membuat Marsyajadi marah.
Sepulang sekolah Zein dan Millke taman. Ternyata Marsya tahu dan termakan
cemburu. Marya bergegas pulang.
Ternyata, Mill
diminta membantu Zein membuat kejutan untuk Marsya. Yaah, apa boleh buat dah
terlanjur datang. Tak mungkin Mill pulang tiba-tiba. Setelah semua siap, Zein
menghubungi Marsya. Tadinya, Mill mau izin pulang. Tapi, dilarang sama Zein.
Marsya tak
kunjung datang. Mungkin masih kesal. Zein minta tolong sama sahabatnya Marsya
buat nyuruh Marsya datang ke taman. Akhirnya Marsya daatang. Kelakuannya
bersama Zein sangat romantis. Hingga Mill pulang mendadak. Tanpa sempat pamit.
Malamnya, Mill
dan Zein sms an. Zein meluapkan kegembiraanya. Dan mengucapkan terimakasih
karena Mill dah bantuin.
Di kelas, Mill
selalau dapet nilai lumayan. Meski Cuma 5 besar, it is good.Kalau ada PR Mill selalu ngerjain. Walau di sekolah,
kadang juga ikut nyontek. Tapi, temen- temen Mill juga nyontek kok. Kadang juga
nyontek Mill.
Sedangkan Zein,
ia tak terlalu pandai. Namun, rangkingnya selalu dibawah 20. Ia memang belum
pernah dapet 10 besar, tapi setidaknya ia juga nggak bodoh-bodoh banget.
Terkadang, Zein juga belajar bareng Mill. Meski ia juga sudah les, tapi
menurutnya tak ada salahnya tuk belajar bareng kan?
Suatu ketika,
Nilai matematika Mill gak tuntas. Awalnya, Mill masih bisa terima. Masih bisa posting kalau mungkin ia kurang
belajar. Tapi, udah 3X. Ada yang gak beres. Mill pun memberanikan diri buat
tanya sama pak Iyus, gurunya.
Setelah dilihat
ulang, ternyata itu bukan tulisan Mill. Melainkan,,,,entahlah Mill tak mau asal
tuduh. Tugas Mill di sabotase oleh seseorang. Pak Iyus pun mencari siapa dalang di balik semua ini. Caranya? Pak Iyus
menyuruh semua murid mengumpulkan catatannya. Dari situlah ketahuan bahwa
Marsya yang melakukan ini. Pantas saja akhir-akhir ini nilainya selalu bagus.
Mill meminta Pak
Iyus agar masalah ini cukup sampai di sini. Tak perlu sampai ke BK. Atau ke
kepsek. Mill hanya butuh nilainya kembali. Ia tak ingin musuh. Apalagi
berurusan dengan Marsya. Pak Iyus maklum. Dan sebagai gantinya, Marsya harus
mengerjakan tugas berupa 100 soal matematika. Nilai Marsya juga terancam
dikurangi. Tapi, masih untung tak di beri “nol”
Sikap Zein
biasa-biasa aja. Agaknya, dia tak tahu apa yang barusan terjadi pada Mill dan Marsya.
Meski kesal pada Marsya, Mill tak mau persahabatannya dengan Zein hancur
berantakan. Ia juga gak mau buat Zein dan Marsya jadi berantem. Makanya, ia tak
cerita satu pun pada Zein.
Tapi, pantaskah
Marsya untuk Zein? Marsya memang bisa dibilang ratunya sekolah. Sedangkan Zein?
Bahkan ada yang tak percaya kalau Zein adalah pacar Marsya. Tapi, ketulusan
hati Zein tak pantas mendapatkan seorang Marsya. Yang dalam pandangan Mill
adalah sang drama queen.
Menjalani hari
tanpa didampingi orang tua memang berat. Mill harus ngelakuin semuanya sendiri.
Apalagi orang tuanya cuma mampu ngirimin uang 300 per bulan. Itupun kalau gak
ada maalah. 300rb dapet apa? Buat ngekosnya, 100rb. Itu udah yang paling murah.
Terus bayar sekolah 100rb. Itu juga udah gradeterendah.
100rb buat makan, jajan, mbayar yang laen-laen lagi.
Mill menyambung kehidupannya jadi guru les.
Ngelesin anak SMP. Awalnya tiap pulang sekolah Mill main ke rumah temen. Sambil
ngerjain tugas. Kan lumayan, gak usah cari makan siang. Hehe. Tapi masak tiap
hari maen? Kan gak enak.. Mill juga sempet jualan, tapi karena gak balik modal,
terus berhenti.
Kini, orang tua
Mill kian bertambah tua. Ada kemungkinan bentar lagi Mill jadi sebatang kara.
Astaghfirullah, gak boleh mikir macem-macem. Namun apa daya. Memang sudah
takdir. Mereka meninggalkan Mill kaerena kecelakaan waktu kerja. Mill sendiri
tahu setelah 1 minggu.
Waktu itu Mill
pulang. Rencananya buat ngabarin kalau Ayah/ Bunda harus dateng ke sekolah.
Biat ngambil rapot UTS dan menyelesaian pembayaran.Maklum, uang seragam ajabelum
lunas. Di desa, terlihat rumah Mill sepi. Tak ada tawa Ibu yang meyambut
kedatangannya.Tak ada pula baju bekas keringat ayah waktu kerja. Mill ketemu
bulek. Dan bulek pun menceritakan semuanya. Nggak nyangka ayah ibu secepet ini
ninggalin Mill. Bulek nggak sempet kasih kabar. Sibuk, apa memang lupa sama
Mill? Maklum, selama di kota Mill jarang pulang.
Sudahlah, tak
perlu dibahas lagi. Yang lalu biarlah berlalu. Tak perlu menyalahkan siapapun.
Mill sempat ditawari tinggal bareng bulek. Maklum, bulek adalah satu-satunya keluarga
yang Mill punya. Tapi, spontan Mill menolak. Mill mikir, kalau bulek juga punya
anak seusia Mill. Nanti, Mill malah ngrepotin.
Mill tak kuasa
menahan tangis. Ia berlari masuk rumah. Menuju kamar menghempaskah tubuhnya ke
kasur. Membungkam mulutnya dengan bantal. Hingga lupa menutup tirai. Ya,
beginilah keadaan rumah Mill. Sampai tak kuat beli pintu. Isak tangis Mill tak
terdengar dari luar. Bulek pun enggan masuk. Bulek pikir, Mill butuh waktu
sendiri.
“Mill, tak perlu
kau sesali. Ini sudah takdir. Kalau perlu apa-apa datanglah ke Bulek ya.Bulek
yakin kamu kuat. Bulek pulang dulu.”suara Bulek terdengar samar-samar. Bulek
tak berani masuk. Hanya mengintip dari luar.
Suasana rumah
Mill kini sepi, tak ada lagi suara yang selalu menyuruh Mill ini dan itu. Tak
ada nasehat yang selalu Mill abaikan. Tak ada bentakan kasar Ayah. Semua sirna.
Mill sadar, bahwa ia rindu akan kehadiran mereka.
Tangis Mill
mereda. Mill memandangi sekeliling. Tak, ada satupun foto. Ataupun, benda yang
melukiskan wajah mereka. Tangisan Mill tak kan mampu untuk mengembalikan
mereka. Mill pun datang ke makam. Nampak dua nisan baru. Tangis Mill pecah
lagi. Ia terjatuh, seakan kakinya tak mampu lagi menyokong baadnnya. Ia memeluk
nisan itu erat-erat. Bibirnya berulang kali menyebut kata “maaf”. Mill
memanjatkan doa.
Sepulamg dari
makam, Mill menemui Bulek. Mill pamit mau ke kota. Awalnya Bulek ragu. Tapi, sifat
Mill yang keras kepala membuat Bulek menurut. “ya” ucapnya. Dari Bulek Mill di
bekali 2 lembar uang 20rb.
Mill kembali ke
kota. Ke tempat gerah. Yang mungkin memang bukan tempat Mill. Di sana, Mill
menutupi semuanya, hingga tak seorangpun yang tahu. Mill pendam semuanya
dalam-dalam. Agar ia tak lagi mengingatnya.
Di sekolah, mill
Masih terdiam. Sekuat-kuatnya Mill, ia tak mungkin dapat melupakan hal yang
baru menimpanya begitu saja. Maklum, Mill sangat menyayangi kedua orang tuanya.
Di tengah jam istirahat.Zein
menemui Mill, sangat peka dengan ketidakbiasaan sikap Mill. Zein memang hafal
betul tabiat Mill. Memang sedari pagi Mill terdiam. Murung. Diamnya Mill hari
ini tak biasa. Mill menggeleng. Lalu tangannya ditarik Zein menuju tempat yang
sepi.
Di sudut sekolah,
menempati kursi panjang yang kosong, Mill pun terpaksa bercerita. Kalau kini
orang tuanya tlah tiada. Sampai-sampai ada guru yang lewat, mereka tak sadar.
Mill tak tahan
menahan tangis. Tetes demi tetes tangis Mill membasahi pipinya yang lembut.
Mill tak menutupinya dari Zein. Tak juga di usapnya. Zein tak sanggup berkata
apa-apa lagi. Ia hanya bisa terdiam dalam isak tangis Mill. Zein memandang Mill
kuat-kuat. Setelah cukup nyalinya, ia mulai membuka mulut.
“Sudahlah Mill.
Tak perlu ditangisi. Tersenyumlah, hapus air matamu. Dengarkan aku baik-baik,
mereka tidak pergi, mereka ada di sini(menepuk dada). Bersamamu.” Kata Zein.
Mill lari ke
kamar mandi menghapus air matanya. Zein masih di luar. Setia menunngu.
“Kalau ada
masalah lagi, jangan sungkan cerita. Aku siap jadi tempat curhat. Anggap saja
aku ini kakakmu.” Zein
Mill gak jawab.
Ia terus menunduk. Dengan Zein dibelakangnya seperti pengawal, Mill kembali ke
tempat duduknya.
Esok paginya,
Mill mengumpulkan keberanian untuk mengucapkan “terimakasih” pada Zein. Zein
membalas Mill dengan senyuman.
Mill dan Zein,
dua pribadi yang berbeda. Dan saling melengkapi. Sebagai sahabat, mereka
terlihat begitu dekat dan sangat akur. Bahkan kedekatan Zein dan Mill melebihi
kedekatan Zein dan Marsya. Itu membuat beberapa pihak tersinggung. Termasuk geng Marsya. Marsyanya sih biasa aja.
Tapi, tiap hari di kompor-komporin, Marsya jadi kebawa emosi. Yaah, masalah
lagi.
Selepas kepergian
ayah dan bunda, Mill jadi pribadi yang tegar, kuat, dan penuh misteri. Apalagi,
Marsya kini sering melakukan bully pada
Mill.
Pernah waktu itu
Mill dicegat oleh Marsya selepas pulang sekolah. Waktu tu, sekolah memang
benar-benar sepi. Ketika Mill hendak pulang, Marsya sudah stand by di depan kelas. Marsya tidak sendiri, ia bersama Niken
salah satu anak geng-nya.
Dengan tatapan
sadis, Marsya menrik baju Mill. “eh, Mill... Lo nggak usah deket-deket deh sama
Zein. Lo tau kan Zein itu pacar gue. Lo nggak punya hak buat deket sama dia.
Zein Cuma buat Marsya. Lo juga nggak usah sok baik, sok cheer di depan Zein.
Dari pertama gue liat Lo, Gue udah nggak suka sama Lo,” Kata Marsya setengah
emosi.
Mill yang tak
biasa menerima perlakuan ini memberanikan diri menawab, “Maaf kalau kamu
tersinggung. Selama ini saya tidak mempunyai maksud apa-apa. Saya dekat dengan
Zein hanya sebatas sahabat tidak lebih. meskipun Zein pacar kamu, dia masih
bebas berkawan dengan siapa saja.Saya tidak akan menjauh dari Zein. Tidak
pernah. Tidak akan pernah.”
Marsya semakin
emosi, “Oh, jadi berani Lo sama Gue? Di sekolah ini nggak ada yang boleh
nantang Gue, apalagi ngelawan omongan Gue.”
Marsya
mengedipkan mata ke Niken. Mereka pun langsung mendorong Mill hingga terjatuh.
Lalu Mill dilempari dengan telur dan sisa minum Marsya.
“ini akibatnya
kalau Lo nggak mau nurut sama Gue. Kalo lo nggak mau jauhin Zein Lo bakal
ngrasain ini tiap harigimana, Lo masih nggak mau jauhin Zein? ” bentak Marsya.
“Tidak. Tidak
akan pernah.” Mill sembari menahan tangis yang memang sudah tak tertahankan.
Kala itu, Jessie
lewat. Dengan berani Jessie masuk ke dalam gerombolan. Mengetahui bahwa keadaan
Mill seperti itu, Jessie lalu mendorong Marsya.
“Apa maksudnya
ini?” kata Jessie.
“apa? Uh.
Pahlawan kesiangan.” Marsya tidak membalas dorongan Jessie. Ia dan Niken
memlilih pergi meninggalkan tempat kejadian.
Entah mengapa
perlakuan Marsya sedikit berbeda kepada Jessie. Mungkin, karena Jessie anak
taekwondo. Daripada kalah telak mnding mundur pelan-pelan.
Jessie pun
membantu Mill. Meskipun begitu, Mill tak menceritakan apapun pada Jessie.
Jessie begitu baik, hingga rela meminjamkan jaketnya untuk Mill.
Suatu ketika Zein
lagi males sama Mill. Mill bingung, kayaknya, ia gak pernah bikin salah keZein.
Tapi, kok Zein kayak gini ya? Lagi-lagi ada orang yang iri sama Mill.Orang itu
adalah Marsya. Ya ampun, dunia ini sempit banget yaah.
Zein
dikompor-komporin oleh Marsya and the
geng. Katanya, Mill tak tulus berteman sama Zein. Ia hanya ingin manfaatin
Zein. Pengen hartanya. Zein termangu. Seakan tak percaya. Tapi, karena yang
ngomong pacarnya sendiri. Tentu saja Zein percaya.
Berulang kali
Mill mendekati Zein. Menanyakan masalah yang sebenarnya. Namun, Zein selalu
menghindar. Kedua anak itupun tak lagi terlihat dekat jangankan ngobrol.
Bertatap muka pun enggan.
Hingga suatu
ketika, Zein dan Marsya terlibat masalah serius. Terjadi perang. Nampaknya,
Marsya makin menjadi. Dan Zein juga dah gak kuat. Bagi Marsya, Zein tak lebih
dari sekadar status.
Waktu itu Mill
liat Zein dibalik pintu. Dan pandangan Zein tertuju pada Marsya. Di sana tampak
Marsya and the geng lagi ngomongin
Candra. Anak paling ngetop di sana, Marsya bilang, ”Gue yakin gue bakalan dapetin
Candra. Setelah gue dapetin Candra, gue tinggal mutusin Zein. Lagian, gue juga
gak butuh Zein. cuma buat pamor doang. Lagian dianya juga bego. Mau-maunya tak
suruh ngerjain PR. Dan bayarin makan. Kan lumayan.”
Tentu saja Zein
sangat tersinggung. Ia berlari sampai menabrak Mill. Zein duduk di kursi sudut
sekolah. Tempat yang bebas dari bisingnya kelas. Mill menghampiri Zein.
“Sorry aku
ganggu. Mungkin aku di sini memang gak tepat. Kamu butuh waktu sendiri. Aku cuma
mau bilang. Kalau wanita bukanlah segalanya. Tetaplah tegar. Seperti yang dulu
pernah kau katakan, aku di sini ada buat kamu. Tak usah sungkan. Aku gak ngerti
kenapa akhir-akhir ini sikapmu beda. Tapi, bagiku, kamu tetep kakakku.” kata
Mill
Tak ada jawaban,
Mill beranjak pergi. Tangan Zein pun spontan memegang tangan Mill. Menahannya
tuk pergi. Mill kembali duduk. Zein bilang,”Makasih. Sekarang aku dah tahu. Dan
aku akan selesaikan semua ini.”
Di hari itu juga
Zein dan Marsya putus.
Mill takut,
keadaannya sama Marsya akan kian memburuk. Hari itu, sepulang sekolah Zein dan
Mill kelihatannya dah baikan. Mereka duduk di kursi panjang. Mereka saling
berbagi cerita. Dan Zein tahu gimana perlakuan Marsya pada Mill selama ini.
Kalau di cari
tahulebih lanjut, Marsya adalah saudara jauh Mill. Sayangnya, mereka tak pernah
tahu.Dulu, bunda Mill pernah cerita soal saudaranya di kota. Tapi, Mill tak
pernah memerhatikan.
Semester dua dah
hampir usai. Para siswa tentu saja senang. Berbeda dengan Mill yang yang harus
mencari dana melunasi sekolahnya. Kebetulan Mill termasuk siswi teladan.
Jadinya ia dapat bantuan dari pemeintah. Ia tinggal bayar setengahnya.
Kira-kira setengah juta. Uang yang lumayan.
Mill bingung, ia
terancam dikeluarkan dari sekolah kalau tak segera melunasi. Apalai kini, anak
SMP dah gak les lagi. Minjem Zein juga gak mungkin. Cara satu-satunya, cuma
kerja. Ya, Mill jadi pelayan sebuah restoran. Jam kerjanya dari jam 17.00-21.00.
jadi pelayan aja gak cukup baru bisa nutup setengah kekurangan. Beruntung 2X
nilai matematika Mill 100. Dan hadiahnya, dapet uang 100rb. Terus ia diminta
guru sejarah koreksi upahnya 50rb. Nah, tinggal kurakg 100rb. Mill nemu uang
100rb di deket WC. Ia dah bilang sama satpam. 3 hari, gak ada yang nyari.
Mungkin memang dah rezeki Mill.
Tahun ini
berjalan lancar, tinggal beberapa hari lagi pengumuman. Masih ada banyak waktu
lagi yang mengharuskan Mill untuk berjuang. Mengikuti waktu menaati takdir.
“Mill semangat... Terus berjuang!” batinnya menyemangati.
Kelas X hampir
usai. Tapi, itu berarti, ia harus berpisah sama Zein. Karena mereka
menginginkan jurusan yang berbeda Mill IPA dan Zein IPS.
Zein, asalkan
kamu tahu. aku merasakan rasa itu lagi. Rasa yang dulu pernah ada buat orang
yang berbeda. Rasa yang sudah Mill kubur dalam-dalam. Dan kini, rasa itu muncul
lagi. Buat kamu, Zein. Aku tahu ini salah. Tapi, mau gimana lagi Mill gak bisa
bohongin hatinya sendiri. Mill dah siap buat dapet tolakan dari Zein. Tapi,
kalau buat jujur, ngomong langsung sama Zein. Mill gak tahu, kuat apa nggak.
Waktu yang
dinanti pun tiba. Saatnya pembagian rapot. Hati Mill berdebar-debar. Sudah tak
sabar menyaksikan hasil perjuangan Mill selama ini. Namun, disisi lain ia
bingung dan ketakutan. Ia bingung tentang siapa yang akan mengambilkan rapot
Mill? Maklum saja Mill sudah tak punya siapa-siapa. Dan wali kelasnya terbilang
garang. “Mungkin, semester kemarin aku ijinkan kamu untuk mengambil rapotmu
sendiri. Tapi, maaf Mill kali ini harus orang tua/ wali. Karena ada hal yang
harus saya bicarakan,” kata wali kelas. Dan ia takut akan nilainya bila
turun/semakin buruk.
Akhirnya, Mill
memberanikan diri untuk berbicara kepada ibu kos untuk mengambilkan raportnya.
Namun apalah daya, ternyata pada hari yang sama putri sang pemilik kos juga
harus mengambil raport. Bukannya senang, ia justru mendapat semprotan kata-kata
kasar dari ibu kos.
Mill juga tidak
mungkin meminta bulek datang ke kota. Karena ia sudah terlalu banyak merepotkan
buleknya. Ia tak ingin menjadi parasit untuk keluarga, dan orang-orang
disekelilingnya.
Mill hanya dapat
pasrah. Apapun yang terjadi ia akan menerimanya. Ia tak mengkonfirmasi dengan
guru sekolahnya. Karena ia tahu, hal itu takkkan menyelesaikan masalah.
Hari pengambilan
raport pun tiba. Hati Mill berdegup kencang. Disebelah Mill nampak seorang
lelaki gagah tak terlalu tinggi yang biasanya iseng terdiam. Ia nampak begitu
gelisah. Ya, dia adalah Zein.
“aduh, Milll
kenapa kok perasaanku nggak karuan gini ya? Aku takuut. Btw, siapa yang nantinyamengambilkan raportmu? ” tanya Zein
“Entahlah,
mungkin kali ini aku takkan mendapat raport. Karena kemarin wali kelas sudah
menyuruhku untuk mendatangkan ortu / wali. Yah, tapi apa daya aku nggak punya
siapa-siapa.” jawab Mill
“Kok kamu nggak
pernah bilang sama aku, sih.” Kata Zein yang lalu terdiam sejenak dan kemudian
pergi menghampiri mobilnya. Setelah bercakap-cakap sebentar Mama Zein masuk
kelas.
Jadi, dalam mobil
tadi Zein memminta ibunya untuk megambilkan raport Mill. Kemudian ayah ibu Zein
ada di dalam ruangan. Zein tidak memberi tahu Mill soal ini. Dan ternyata, Ibu
Zein yang sudah mengenal betul Mill lewat cerita-cerita Zein mempunyai niat
baik. Yakni membayarkan uang sekolah Mill sampai lulus.
Beberapa saat
setelah itu hasil pun di umumkan. Betapa bangganya Mill ketika ia mendapat
peringkat 1. Meski ia tak dapat mengantongi raportnya kembali, tapi
perjuangannya tak sia-sia. Zein juga amat gembira setelah tahu, dia mendapat
peringkat 5.
Akhirnya, ibu
Zein pun menyerahkan raport Mill. Tapi, setelah di fotokopi. Betapa gembiranya
Mill dapat menyentuh dan membaca raportnya. Ia sangatlah berterimakasih pada
Zein sekeluarga.
Ibu Zein tak Cuma
berniat membantu Mill sampai lulus. Melainkan, karena nilai Mill selalu diatas
standard ia berniat mencarikan beasiswa buat Mill kelak.
Zein sangat
beruntung memiliki keluarga berhati mulia. Terkadang perhatian ortu Zein
membuat Mill iri. Dan seringkali membayangkan ortunya yang tlah tiada.
Namun, tak jarang
Mill diperlakukan seperti keluarga Zein. Seperti putri dari ayah ibu Zein. Dan
hal-hal seperti itu, yang membuat Mill kuat. Dan Mill sadar, masih banyak orang
yang mengharapkannya menjadi orang hebat.
Kini, setahun
sudah kebarsamaan Mill dan Zein sebagai sahabat. Sahabat yang teramat dekat.
Semua rasa tlah dilalui bersama. Suka duka, sedih gembira. Tiba saat
perpisahan. Meski mereka berada di sekolah yang sama, mereka akan jarang
bertemu, bercakap, dan melakukan hal-hal yang menyenangkan bersama.
Sore itu, Zein
mengajak Mill ke suatu tempat. Tak seperti biasanya senja yang mereka habiskan
di perpustakaan atau tempat-tempat klasik lainnya. Kali ini mereka berada di
sebuah taman nan asri. Tempat yang sama dimana
Zein membuat kejutan buat Marsya. Tempat yang menyakiti Mill. Yang
membuat hati Mill berdarah menahan perih. Tempat penuh kenangan penuh sejarah.
“Mengapa kau
mengajakku kesini Zein?” tanya Mill sembari menyembunyikan ke kalutannya.
“Tidak, aku hanya
ingin melepas penat. Melepas semua masalah. Bersamamu.... “ Zein menjawab
Mereka duduk di
kursi putih panjang yang hanya cukup untuk dua orang. Hati Mill bergejolak.
Saat itu, ia mencoba menenangkan diri. Membuka lembaran buku yang sama sekali
tak dibacanya. Apa mungkin ini saaat yang tepat bagi Mill untuk menyatakan
perasaanya? Entahlah, tapi Mill belum yakin kalau yang dirasakannya cinta atau
bukan.
“Mill, terlalu
banyak masalah yang terjadi dalam hidup ini. Tapi, mengapa kau selalu terlihat
kuat?” tanya Zein
“Kau tahu
sebenarnya aku rapuh. Aku kuat karenamu Zein” jawab Mill
“Maksudnya?” Zein
tak mengerti.
Mill menarik
napas panjang. Mencoba menguatkan dirinya. Mencoba mengungkapkan kekalutan
hatinya selama ini.
“ Zein, aku ingin
membuat pengakuan. Kalau selama ini ada yang salah dengan diriku. Entah apa,
aku pun tak tahu. Aku tak sadar. Ini mengenai kedekatan kita sebagai sahabat.
Kau tahu, aku ini perempuan lemah. Yang tak mampu menyimpan rasa ini lebih lama
lagi. Mungkin, ini waktu yang tepat untuk aku mengakui segalanya. Kalau sepertinya
aku menyimpan rasa lebih buat kamu. Aku tak tahu ini cinta atau apa. Tapi, aku
tidak ingin menodai persahabatan kita ini dengan rasaku. Aku harap, pengakuanku
tak merubah apa-apa. Aku hanya ingin kau tahu yang sebenarnya. Agar aku lega.
Agar tak ada rasa yang harus kututup-tutupi lagi. Kau boleh marah, bahkan kau
boleh tak mau mengenalku. Tapi, itu bukanlah pilihan yang bijak.” ungkap Mill
Beberapa detik
berlalu hening.. hingga Zein membuka mulutnya
“Mill, aku paham.
Dan aku takkan marah. Kuhargai kejujuranmu. Kau tahu, cinta selalu datang
sesuka hati dan terlalu sering pergi tanpa pamit. Aku dengan harapanku yang
tlah rapuh oleh Marsya. Kini, kau ada bersamaku. Meski aku belum bisa menghapus
Marsya dari relungku. Aku tak ingin menyakiti, seperti Marsya yang menggoreskan
luka dihatiku. Dan kita adalah sahabat. Dan akan tetap menjadi sahabat. Entah
sampai kapan Mill. Tapi, aku nyaman berada di sisimu sebagai sahabat, dan aku
takkan melepasmu.” Ungkap Zein
Mereka terpaku.
Memilih diam daripada mengucap kata. Mereka menikmati senja. Bersama langit,
dan diri yang terluka. Mereka tak melupakan asa. Asa yang selalu mereka bawa.
Asa yang menjadi berharga. Dalam senja mereka membuang peluh. Memimpikan asa
menjadi kenyataan.
“Zein, bentar
lagi kita akan berpisah. Menempuh jalan masing-masing. Aku takut, kau akan
pergi jauh Zein.” Mill
Zein tersenyum,
“Tidak, aku takkan pergi. Aku takkan melupakan perempuan tangguh sepertimu.
Meski kita beda kelas, kita akan selalu bertemu. Bagaimana kalau setiap sabtu
sore kita ke sini. Agar kita tak saling melupakan. ”
“Setuju” Mill
mengacungkan kelingkingnya.
Mereka, tak
saling membahas lagi mengenai cinta. Karena persahabatan yang tlah mereka
bangun selama ini adalah sesuatu yang mutlak. Mereka menjalani hari seperti
sebelumnya. Penuh tawa, penuh kebahagiaan. Tak selamanya cinta menyatukan dua
insan. Cukup dengan persahabatan mampu mengikat hati.
Mereka saling
menjaga. Apalagi setelah Zein tahu perasaan Mill mengenai dirinya. Mereka
saling menguatkan, saling meyakinkan.Zein yang tak mau melukai hatinya lagi
karena cinta. Mill yang mampu memendam rasa, tanpa ingin sesuatu yang lebih. mereka
menjadi dua insan yang tangguh akan cinta.
Mulai saat itu
Mill terlihat lebih lega setelah menyatakan perasaanya. Ia sekarang mampu
berbaur dengan yang lain. Ia memulai ikatan pertemananya lebih jauh.
|
|
|
2016
|
|
|
|
|
*Aku tak tahu sampai kapan
rasa itu ada pada Mill,
Entah akan bertahan, atau
pudar bersama waktu,
Aku tak tahu bagaimana
perasaan Zein nantinya,
Yang jelas, mereka sudah
saling bahagia *
Milly yang dalam buku sebelumnya
dikisahkan sebagai siswi yang tegar dan kuat, pendiam namun sebenarnya
menginginkan banyak hal. Mimpinya yang terlalu kuat, menghantarkannya menuju
kehidupan yang tiada apa-apanya. Semua yang terjadi dianggap seperti angin yang
berlalu. Ia tak mencari apa-apa. Hanya sebuah kesuksesan dunia akhirat. Dai ia
ingin diakui menjadi salah satu dai sekian orang hebat.
Kali ini, Mill memasuki kelas XI.
Yah, setahun sudah Mill berjuang meraih apa yang dicita-citakannya. Sekarang ia
hadir ditengah-tengah anak IPA. Pelajar yang sudah dibedakan satu dengan yang
lain. Terlihat raut wajah bahagia menghiasi mimik mereka. Tak terkecuali anak
IPS. Sepertinya, beberapa dari mereka ada yang terpaksa menjalani harinya,
namun sekarang kekecewaan itu sudah terobati. Berganti menjadi tawa. Entah itu
asli atau hanya sandiwara.
Mill terlihat lebih ceria dari
biasanya. Entah kenapa, yang jelas kebahagiaan yang diraasakan Mill diiringi
kebahagiaan siswa-siswi yan lain.
Zein pun nampak bahagia. Melontarkan senyum
manisnya pada indahnya dunia. Zein bergabung dengan teman-temannya. Menjalin
tawa, perpisahan yang sebentar lagi akan terasa beratnya.
Hari itu, pembagian kelas pun
dilakukan. Mill masuk kelas XI IPA1 dan Zein kelas XI IPS 1, Kebetulan letak
keduanya berdekatan, berhadapan malah. Kini, Mill sudah lupa. Lupa tentang
perasaanya pada Zein yang lebih dari sahabat. Kini, Mill hanya mau fokus sekolah.
Supaya nantinya keinginan terbesar Mill tercapai.
Berasa seperti anak baru, di kelas
XI ini semua malu-malu. Maklum baru beberapa hari. Mungkin masih butuh waktu
untuk saling mengenal. Mill sama sekali tak tahu nama teman-temanya. Stupun tak
tahu. Yang ia tahu adalah anak jenius itu. Yah, Edo namanya. Sayangnya Edo tak
mengenali Mill. Mill pun merasa kesepian. Kerap kali
Mill menemui Zein hanya untuk berceloteh hal yang tak penting. Mereaka pun
terlihat seperti sepasang kekasih.
Beberapa hari belakanan ini, Zein mulai sibuk. Sibuk
dengan berbagai kegiatannya. Sibuk dengan dunianya, hingga Mill terabaikan. Tak
apa, rasa itu sudah tiada. Milll adalah sahabat
Zein. Yang nantinya mereka akan berpisah. Anggap saja, kali ini Mill sedang
dilatih untuk tidak bergantung pada Zein. Mill harus menemukan dunianya
sendiri.
Di kelas, Mill cenderung
menghabiskan waktu untuk membaca cerita atau merenung. Hal ini menyebabkan
Milll sedikit terasing. Berkat hobi Mill yang tak banyak orang menyukainya Mill
menjadi pribadi yang lebih pendiam
dari sebelumnya. Tepatnya bukan pendiam sih, hanya saja karena Mill belum
menemukan orang yang mampu membuatnya nyaman, namun, hobi ini pula yang membuat
Mill berbeda dari yang lain. Terlihat tatapan beberapa siswa dikelas Mill berbeda.
Seakan menyimpan rasa. Mill tak mau
mendahului kehendak Allah. Tak mau menyebutnya rasa cinta,
Kala itu, lagi-lagi kelas sepi. Haya
ada Mill, Joseph, dan Edo. Seperti biasa, Mill sibuk membolak-balik buku
kesayangannya. Kali ini cerita romance yang dibacanya. Joseph sibuk pada
handphonenya. Sepertinya, ia memainkan game. Edo sendiri tidak melakukan
apa-apa. Tepatnya sih, melamun. Entah tengah memikirkan apa, yang jelas Edo
begitu menikmati lamunannya.
Mill teringat, saat-saat yang hampir
sama dengan ini. Tepatnya setahun lalu, ketika Mill dan Zein berada dalam satu
ruangan tanpa ada siapa-siapa. Yang kemudian dari situ rasa itu tumbuh menjalar
dalam hati Mill. Mill tak ingin luka lagi. Ia memilih untuk menjauh. Lebih baik
tak mengenal cinta, daripada nantinya hanya akan terluka karenanya. Ya, Mill
meninggalkan kelas. Meninggalkan Joseph, Edo dan cerita romance yang baru saja
dibacanya. Mill tak tahu mau kemana. Yang jelas Mill mau mengukir sesuatu yang
baru.
Mill berjalan, menyusuri lorong
kelas 11. Atau lebih tepatnya Mill hampir mengitari sekolah. Mill memandang
kanan dan kiri. Dilihatnya siswa-siswi sibuk dengan urusannya sendiri. Namun,
tidak hanya itu. Mill mendapat sebuah keganjalan. Mill melihat sekumpulan
remaja duduk melingkar agaknya membahas tentang kehidupan. Di dalamnya ada Lena
(salah satu siswi yang dulnya sekelas sama Mill, maaf kalo nggak pernah denger
masalahnya Lena itu biasa-biasa aja).
Mill berhenti sejenak, duduk diatas
kursi coklat panjang di depan kelas XI
IPA 5. Letaknya tak terlalu jauh dari kumpulan anak tadi (Lena dan
teman-temannya). Mill pandai. Pandangan Mill diarahkan jauh menghindari mereka.
Padahal konsentrasi terbesar Mill adalah mereka. Ketika tengah asyik
mendengarkan obrolan mereka, Mill terpaksa harus kembali ke kelas. Karena guru
mapelnya sudah datang.
Ini kali pertama Mill telat masuk
kelas. Dan sebagai sanksinya, Milll dihukum tak boleh mengikuti pelajaran. Mill
duduk di depan kelas. Melamun, memikirkan apa yang tlah ia lakukan. Milll
menyesali perbuatannya. Tiba-tiba Mill dikagetkan oleh suara berat yang
memanggil nama Mill.
Ternyata itu Joseph. Ya, si lucu dan
pembuat hal-hal kecil yang menarik untuk dikulik.
“kok nggak masuk, Mill ?”
“iya, aku telat. Lalu dihukum suruh
ke luar.”
“ oh ”
Keadaan kaku sebentar. Hingga mereka
memulai pembicaraan bersamaaan.
“ kamu nggak coba masuk dulu ?”
“ enggak, mau disini. Nemenin kamu.
Kasihan kalau ditinggalin nanti diambil orang. ”
“ lucu hehe. ”
“ Mill, kamu nggak bawa buku ?”
“ nggak kepikiran.”
Mereka pun saling membicarakan
mengenai diri mereka masing-masing. Yah, tentang Mill dan kehidupannya. Tentang
Joseph dan beberapa hal unik tentangnya. Tatapan itu lagi. Tatap yang berbeda,
sorot mata yang tajam dan seertinya disertai rasa. Mill menghindar. Hati Mill
berdegup kencang, ingat! Mill tak akan rapuh karena cinta.
Hari demi hari merganti. Tak ada
yang istimewa. Semua nampak sama.seperti sebagaimana seharusnya. Perasaan Mill
sudah stabil. Beruntung Mill belum jadi curhat sama Zein. Mau jadi apa kalau
Zein tahu ? ah sudahlah...
Suatu ketika ada tugas b. Jawa
simple sih Cuma suruh nyanyi. Alhasil, Mill tak dapat pasangan karena memang
biasanya begitu. Mill sudah biasa. Kemudian Mill dipasangkan dengan Dafa, yah
anak yang sok keren (walaupun banyak yang bilang memang kerren sih). Mill takut
Dafa tak akan respon. Atau bahkan, tak mau menjalankan tugasnya.
Akhirnya, Mill berbincang dengan
Daffa. Daffa begitu baik, supel dan yang pasti tak seperti bayangan Mill yang
ganas dan menyeramkan. Bahkan kelompok Mill selesai paling awal. Kala itu, Mill
memang sedikit kesulitan untuk menyamai suara Daffa yang terbilang merdu. Tapi
tak apa berbeda itu istimewa. Sejak saat itu, Mill tak lagi mau menilai orang dari covernya.
Mill sudah mulai biasa berkawan
dengan siapa saja. Entah itu cowok yang cool yang bandel semua adalah teman
Mill. Mill rasa, sekian lama ini adalah proses pendewasaan diri Mill.
Pengalaman cintanya dengan Zein yang berujung kandas tapi bahagia adalah
sesuatu yang sangat berharga buat Mill. Kini, Mill lebih santai menapakii
kehidupan. Menjalani dengan sebagaimana seharusnya. Masalah biaya pun, Mill
sudah tak terlalu repot. Karena sekolah sudah membebaskan biaya administrasi
sekolah Mill sampai tamat SMA. Mill tinggal memikirkan bagaimana bertahan hidup
ditengah kota yang keras itu.
Mill menjadi pribadi yang lebih terbuka. Ini berkat Joseph. Nanti akan
kujelaskan. Keterbukaan Mill mengakibatkan Mill semakin dekat dengan
kawan-kawannya. Mill pun tak pelit-pelit membagikan ilmu yang ia punya untuk
orang lain. Begitu pula jika Mill kesusahan. Sayangnya sifat pemalu di diri
Mill tak sepenuhnya hilang. Jika Mill kesulitan, Mill hanya berani bertanya
pada sebagian orang saja. Joseph salah satunya.
Baiklah,
akan kujelaskan siapa itu Joseph dan bagaimana ia mampu mengubah Mill.
Joseph adalah anak kedua dari 3
bersaudara. Kakaknya (Marina) telah menikah setahun lalu. Adiknya masih belia.
5 tahun. Nono namanya. Keluarga Joseph keluarga yang terbilang harmonis., menurut kebanyakan orang. Ayah Joseph seorang
tentara AU. Ibunya penjual kue kering. Yah itu sepintas tentang Joseph. Biar lebih gampang kusebut Jo.
Jo orang yang supel, tapi tidak
dengan wanita. Jo sering membuat hal-hal unik yang akhirnya memecahkan tawa. Jo
selalu tampak ceria. Kala itu, Jo menjadi bulan-bulanan temannya. Tak ada
sedikitpun dendam yang tersirat di muka Jo. Justru tawa itu meledak.
Senin itu, sehabis olahraga Mill duduk bersandar dibawah pohon sendirian. Jo
lewat...
“ Hai Mill. ”
Kali itu pertamakalinya Jo menyapa
Mill.
“ Iya Jo. Bawa apa kamu ?”
“ Ini es teh. Mau ?”
“ terimakasih, beli dimana ? ak mau beli saja.”
“ tuh di depan. ”
“ya udah aku ke depan dulu”
Tak lama kemudian Mill kembali tak membawa apa-apa.
“yah, udah habis Jo”
“ nih, buat kamu aja. Kalo mau sih.
Hausku dah hilang kok.”
“ ya, sini.. aku mau. Makasih Jo”
“ oke. Kelas yuk ?”
“ ya kalau dah habis. Bentar. duluan aja,”
“nggak mau”
Akhirnya mereka ke kelas bareng. Pertemuan
klasik bukan ? gara-gara ini Mill berubah ? tentu tidak. Sehabis ini, Jo nge
chat Mill lewat salah satu medsos. Dirumah tapi. Lalu, Mill respon dengan baik.
Mill dan Jo serasa nyambug. Walaupun jo Cuma nanya materi tapi, mereka nyambung
banget. Mereka diskusi tentang beberapa hal.
Nah, kala itu Mill dan Jo diskusi tentang
masalahnya masing masing serta solusinya.
Awalnya, Jo meminta pendapat Mill tentang
sifat dan perilakunya di kelas. Yah, Mill yang polos, semua dijawab secara
jujur. Mill bilang Jo terlalu aktif. Bagus sih, Cuma Mill kurang suka. Mil
bilang Jo keren. Sabar. Baik. Yang pasti Mill suka humornya Jo.
Dari situ Mill mulai terbuka. Jo adalah orang
kedua setelah Zein yang Mill percaya mampu menyelesaikan masalahnya. Curhatan
Mill mengalir. Lancar-lancar saja. Tanpa ada rasa nggak enak atau apapun. Yang
Mill rasa Mill nyaman bercengkrama dengan Jo. Sebatas teman lo ya. Mill pun kan
berubah mengikuti sifat Jo yang gampang bergaul. Salah satu sebab teman Mill
bertambah adalah Jo. Kedekatan Mill dan Jo kini menandingi kedekatan Mill dan
Zein. Hingga suatu hari...
“ Miill, kamu nganggur nggak ? lama kita nggak
bareng- bareng. ” Zein
“ iya, nanti sore ?”
“ boleh, tempat biasa ya.”
“siap.”
Sore itu ditempat yang sama, sekitar 3 bulan
lalu Milll dan Zein mengukir janji untuk tak saling melupakan. Apapun yang
terjadi. Zein sudah menunggu. Mill datang dengan raut muka yang kian ceria.
Duduk, lalu menyapa. Berbasa-basi, kemudian masuk ke ranah yang serius.
“ Mill, kukira kau melupakanku.”
“ Tidak. ”
“ sudah hampir sebulan kita tak ke sini.”
“ bukankah, kamu yang terlalu sibuk sehingga
tak bisa datang menemuiku ?”
“ ya, tapi kenapa kamu tak pernah lagi
menemuiku di kelas ? ”
“ Zein, aku perempuan. Tak sepantasnya aku ke
kelasmu terlalu sering. Telingaku muak dengan perkataan teman-temanmu yang
seakan merendahkanku.”
“oh, maaf Mill. ”
“ tak apa. Bagaimanapun, kamu pernah menjadi
orang terindah dalam masa laluku. Aku tak ingin menghapusnya. Tak mau membuat
luka. ”
“ Mill, kamu sudah menemukan penggantiku ?”
“pengganti apa ?”
“pengganti tentang rasa yang pernah kau beri
untukku.”
“ kamu tahu Zein, yang namanya sahabat tak
akan pernah tergantikan. Kalaupun aku punya sahabat baru. Tak ada salahnya kan
?”
“ iya Mill. Tak apa. Tapi yang ku maksud bukan
itu”
Muka Mill memerah. Seakan teringat sesuatu.
“ Oh, aku tahu. Yang itu. ”
“ Mill, apa kamu masih menyimpan perasaan yang
sama ?”
“ Zein, soal rasa itu aku sudah lupa. Aku
sudah membuangnya jauh dari pikiranku. Kini, aku menganggapmu sama seperti awal
kita menjalin persahabatan, tanpa rasa.”
“jujur aku mulai mersa ada yang hilang dari
diriku akhir-akhir ini. Dan kukira itu karena aku jauh darimu.”
“Mungkin kamu merindukanku.. haha.. Kalau kamu
rindu datang saja ke kelas. Sekarang aku mulai nyaman berada disana. Aku mulai
menikmati keadaan. Menyayangii kawan-kawanku.”
“kamu berbeda Mill.”
“ya, memang. Tapi, kurasa itu lebih baik.”
“oiya, Mill siapa sahabat baru mu ?”
“banyak. Tapi ada satu yang mirip kamu.
Namanya Jo”
“mirip gantengnya ? Jo siapa ?”
“ emang kamu ganteng ? haha. Joseph”
“Oh, iya. Dia baik.”
“kamu sendiri, bagaimana di kelas ?”
“ kurang baik. Aku lebih suka kelas kita yang
dulu. Ada kamu.”
“Yee, kamu mah”
Senja itu terulang lagi, senja yang indah
tanpa rasa itu. Tanpanya pun senja tetap indah. Apalagi, bersama sepasang
sahabat yang masih akur. Bukannya Zein sama Mill nggak pernah punya masalah loh
ya. Yang namanya sahabat pasti nggak akan selamanya mulus, hanya saja, mereka
cukup cerdas menyikapi masalah itu.
Kemudian, hari itu
tugas menumpuk begitu banyak. Dari guru killer lagi. Mill kali ini lalai. Ia
tak mengerjakan separuh dari tugasnya. Malam itu, Mill kecapekan. Warnet pun
sudah tutup. Alhasil, nilai Mill tidak tuntas.
Kebetulan itu maple
fisika. Dan Jo termasuk anak yang gemar fisika. Akhirnya guru Killer itu
menyuruh Mill belajar bersama Jo dan mengumpulkan tugas barunya. Ini kali
pertama Mill menjadi seseorang yang harus diajari. Dan bukan dengan orang
professional.
Sore itu di
perpustakaan. Mill sudah menunggu 20 menit. Rasanya Mill jengkel pada Jo yang
tak kunjung datang.
“hai Mill udah lama?”
“hmm, kira-kira?”
“maaf ya, saya dari
remidi matematika.” Jo tersenyum.
“ya gapapa” Mill tak bisa marah sama Jo
“kok kamu bias dapat
C ? Kamu kan siswi pandai”
“sedang tidak
beruntung”
Mereka pun belajar
bersssama. Ditengah- tengah kebersamaan mereka Jo berceletuk.
“Mill. Boleh Tanya
sesuatu?”
“apa”
“soal kamu dan zein”
“mengapa memangnya?”
“kalian pacaran ya?”
“tidak” mill tertawa
“oh. Kulihat kalian
begitu dekat.”
“ya, dekat bukan
berarti pascaran kan. Dia sahabat yang baik.”
“bagaimana bias dekat,
kurasa kamu pendiam.”
“Zein itu supel. Semua
orang dekat dengannya”
“kenapa aku tak bias
seperti itu ya?”
“orang itu kan
beda-beda.”
“iya sih, tapi jadi
nggak bisa deket sama kamu deh.”
Tugas fisika pun
akhirnya beres. Sekarang tinggal bahasa Inggris. Dan Mill harus berhadapan
dengan Edo. Ya, si jenius itu. Entah mengapa, akhir-akhir ini nilai Milll tidak
stabil seperti dulu. Mungkin, agar Mill bisa merasakan jadi mereka.
“Yo Mill mulai
belajar. Aku Cuma punya waktu setengah jam”
Waktu itu, pulang
sekolah. Mill belum sempat makan. Mau menolak tapi tidak enak sama Edo.
“iya”
Mill itu cerdas
semuanya iya cepet paham. Walau kadang harus membaca berulang-ulang.
“udah paham?”
“udah”
Mill sudah tidak
bertanya lagi. Otak Mill sedah lelah. Walaupun Mill masih mengganjal pada satu
sub bab, tapi lupakan. Waktu tersisa 10 menit.
“Edo, boleh Tanya ?”
“apa? Asal tak lebih
dari 10 menit”
“soal Jo. Dia itu
orangnya gimana?”
“kamu suka?”
“tidak hanya ingin
tahu aja”
“baiklah, akan ku beri
tahu sedikit tentang Jo. Aku dan Jo sebenarnya tak terlalu dekat. Dia baik,
lucu, menurutku pantas untukmu”
“kamu ini ada-ada
saja”
“tapi, yang perlu kamu
tahu. Jo itu banyak yang naksir. Kalo kamu salah satunya, maka siapin hati dan
fikiran. Karena yang baik belum tentu tak menyakiti.”
Sore itu, Mill
melamun. Sipa kiranya yang menyukai Jo selain dirinya. Siapapun itu, ia adalah
orang bersudut pandang positif.
Tak lama setelah itu,
Mill pun tahu siapa yang memiliki perasaan pada Jo. Dan ternyata gak Cuma satu
dua. Banyak. Dan salah satu dari mereka adalah teman dekat Mill. Mill pun
mengubur perasaannya. Tak mau menyakiti siapapun dalam hidupnya.
|
I
|
|
[Year]
|
|
|
|
|
Tiba saatnya Mill menjalani perjuangan
terberatnya di SMA. Yah, kelas XII. Masa yang sepertinya tak akan ada kisah
haru, tawa kenangan manis tentang cinta. Awalnya terbelesit
dipikiran Mill bahwa kisahnya yang berwarna tlah berakhir. Ia akan lebih sering
belajar untuk menghadapi ujian. Tapi, Mill salah. Justru ia mengukir rasa yang
semakin dalam pada seseorang yang tak pernah ia duga. Bukan Zein pastinya.
Kala itu, kelas Mill sudah berubah lagi. Tanpa
Zein, tanpa Jo, tanpa sahabat-sahabat Mill. Mill merasakan kesendirian itu
lagi. Tapi, lama-lama juga rasa itu hilang sendiri. Milll menempati kelas XII
IPA 2. Kelas itu penuh dengan humor, tapi tak mampu membuat Mill bahagia.
Bahkan tersenyum pun tidak.
Dulu, si humor dikelasnya adalah Jo, yang
dengan ringannya melontarkan kata dan mampu membuat semua tertawa. Mill ingat
betul setiap kata serta nada suara yang pernah Jo lontarkan. Ingat pula bahasa
serta ciri khas chat Jo. Namun, kini mereka lost kontek. Walaupun kelas mereka
deket tapi mereka jarang bertemu. Sepertinya Jo mulai fokus dengan sekolahnya.
Suatu ketika, rasa rindu mengisi relung hati
Mill. Ya, sosok yang selalu menjadi teman sekaligus semangat Mill belajar
menghilang tanpa kabar. Ya, Mill merindukan chat dari Jo. Akhirnya, Mill pun
tanpa sadar mengirimkan pesan pada Jo
“assalamualaikum
Jo”
“waalaikumsalam”
“apa
kabar ?”
“baik.
Kamu?”
“baik
juga”
“tumben
kamu nge-chat aku. Ada apa?”
“gak
ada apa-apa. Gak boleh ya?”
“iya
bukannya gitu,”
“lagi
sibuk ?”
“enggak
”
“oh”
“:v”
Selalu begitu. Namun sekarang justru Mill yang
lebih banyak nanya soal pelajaran ke Jo. Mill nyaman. Bahkan ketika masalah
Mill terlalu besar, Ia membaginya ke Jo. Mill juga kerap kali berdiskusi tentang pelajaran
bersama Jo. Ia sangat baik.
Jo, sosok yang agak
pendiam, kalem, tapi selalu menyimpan misteri. Ia terlalu indah untuk dijadikan
teman. Siapapun yang telah mengenalnya akan merasakan hal yang sama seperti
Mill. Entahlah, padahal banyak yang lebih baik dari Jo. Tapi kedamaian itu
hanya ada bersama Jo. Kedamaian yang mirip sperti didekat Zein. Tapi, ini
berbeda. Mill tak mengerti, padahal Jo adalah sosok yang tak pernah terfikir.
Ia kekanak-kanakan tapi dewasa.
Hari demi hari
berganti. Semakin lama semakin berat. Rasa yang harus Mill sembunyikan. Dan
beban keluusan yang ada di pundak Mill.
Adanya Jo dalam hidup
Mill membuat motivasi tersendiri dalam hidup Mill. Ia tak boleh mengecewakan
Jo. Ia harus mendapat yang terbaik dalam prestasinya. Ia haru menjadi yang
pertama. Ia ingin membuat orang-orang disekitar Mill bangga akan pencapaiannya.
Jo, see you on the top
Hingga hari kelulusan tiba, Mill menyimpan
rasa pada Jo. Mill pun berpisah dengan Jo, meninggalkan warna-warni masa SMA
yang penuh misteri.
“selamat
Jo”
“kamu
juga”
“rencana
kemana? Jadi ke AU?”
“Iya.
Kamu? Jadi ambil kedokteran?”
“iya”
“sukses
ya”
“
amiin.. jo boleh aku bilang sesuatu?”
“apa?”
“tapi
kamu jangan marah, jangan ketawa, janji?”
“iya”
“jo,
maaf aku telah menyimpan rasa padamu. Sudah sejak lama. ”
“maksudmu?”
“ah,
sudahlah lupakan. Aku tak bisa memperjelas ucapanku.”
“tunggu Mill. Aku paham. Kau tahu, aku pun
merasakan hal yang sama. Namun, aku tak bisa mengungkapkan apapun. Aku tak bisa
mengikat janji apapun.”
“benarkah
perasaan itu tulus dari hatimu?”
“tentu.
Dan tak kusangka orang sepertimu menyimpan rasa untukku”
“iya,
setidaknya aku lega. Telah mengungkapkan
dan mengetahui rasamu”
“iya
aku juga”
“apa?
asal bukan hatiku.”
“aku
ingin foto sebagai kenangan kita. Dan, aku ingin kau membawa pulang kesuksesan
untuk dunia”
“yang
pertama bisa kuturuti. Yang kedua?? Kurasa dapat kurealisasikan dalam mimpiku dulu.”
Mereka
pun menjalani hidup mereka masing-masing. Mereka mengejar mimpinya untuk
menjadi sukses, dan suatu saat dapat membagi kesuksesannya satu sama lain.
Lagi-lagi cinta
lebih baik berujung pada persahabatan. Tak akan ada yang namanya mantan
sahabat atau mantan teman. Tak akan ada kata
putus. Tak akan ada kata menyakiti atau mengingkari janji. Karena sahabat
akan selalu menjadi yang terindah. Sekarang, esok dan selamanya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar