Dunia Tak Sekejam Yang Ku kira
Aku
adalah seorang wanita muda tak berdaya. Tak berdaya tuk menghadapi semua ini.
Tak berdaya menghadapi hidup ini. Aku adalah bagian kecil dari dunia. Dunia
yang slalu kuanggap kejam. Dunia yang penuh keganjalan. Aku tak pernah
menghargai hidup. Karena hidup yang ku jalani, tak pernah sesuai dengan yang
kuingginkan.
Sampai
suatu ketika, aku bertemu dengan seseorang yang mengubah sgalanya. Yang mampu
mengubah argumen ku pada dunia. Ia menyadarkanku akan dunia yang sebenarnya.
Kalau dunia tak selamanya kelam. Ia yang mengajarkan ku menghargai alam,
menghargai perasaan, danmenghargai dunia ini.
Aku
tak pernah menganggap hidup ini indah. Bagiku hidup adalah musuhku. Karena yaku
tak pernah bisa menikmatinya. Aku tak pernah bahagia. Sekalipun aku bahagia,
itu tak untuk waktu yang lama.
Sudah
lama aku menanti perpisahan. Berpisah dengan dunia ini. Ya, aku selalu bertanya,
“kapankah aku mati?” Bagiku,
jika aku cepet mati itu berarti penderitaan ku kan berakhir.
Kehidupanku
selalu berjalan monoton. Setiap hari kulalui dengan perasaan yang sama. Meski
aku tak bahagia, aku tak pernah merasakan sedih yang mendalam. Aku membenci
dunia ini, bermula ketika aku dilahirkan ke dunia ini.
Ya,
aku dilahirkan dengan jalan normal. Namun, tak seperti bayi pada umumnya, berat badanku dibawah rata-rata.
Dan saat di lahirkan aku tak menangis. Mungkin itu sebabnya, sampai sekarang
aku jarang menangis.
Aku
lahir dangan keterpaksaan. Orang tuaku tak pernah mengharapkan kehadiran
diriku. Tapi, aku bukanlah anak haram. Ayah ibuku sudah menikah setahun lalu sebelum aku lahir.
Saat mengetahui ibu hamil, mereka tak tersenyum. Bahkan merunduk sedih. Maklum
saja, waktu itu keadaan sangat tidak memungkinkan. Kondisi ekonomi masih belum
stabil. Ayah tak punya pekerjaan tetap.
Hingga
ayah sering meninggalkan rumah dalam waktu yang tidak sebentar. Ada pula
sebagian warga yang menuduh ibu berbuat macam-macam dengan laki-laki lain.
Awalnya, mereka ingin membunuhku saat dalam kandungan. Namun, tak berhasil.
Kini,
setelah aku lahir keadaan
tak kunjung membaik. ASI ibu tak juga keluar. Sampai aku hanya diberi air
putih. Terkadang teh manis. Setelah aku lumayan besar, ibu menyuruhku
segalanya. Aku yang menyelesaikan pekerjaan rumah. Terpaksa ibu harus pergi
pagi-pagi buta membantu ayah mencari uang. Aku selalu sendiri. Tanpa pernah
mengerti arti kasih sayang.
Hidupku
sebelum ada dia..............
Perkenalkan
aku Latifa artamevia. Aku hidup bersama keluargaku. Lengkap dengan ibu, ayah,
dan adik. Aku adalah anak sulung dari tiga
bersaudara. Ya, jadi wajar kalau rasa cinta orang tuaku harus terbagi. Aku
harus selalu mengalah dan mengalah. Di mata mereka, aku selalu salah. Jadi
wajar saja aku jarang di rumah.
Aku
menghabiskan waktuku tuk merenung. Di tempat yang sepi. Tanpa suara. Biasanya
aku pergi ke kamar mandi, gudang, atau lab komputer. Terkadang aku menuju
perpustakaan. Bukannya sok sibuk atau sok rajin, tapi karena aku suka
kedamaian. Tak banyak yang menyukai perpustakaan, kan?
Hanya
orang-orang jenius dan orang kurang belaian seperti aku ini yang meramaikan
perpustakaan. Berbeda dengan hari biasanya, kini aku ditemani oleh seorang
siswi. Aku takkan menyebutnya teman. Namanya
Teresiakiana. Aku lebih sering memanggilnya Tere.
Katanya,
ia sudah lama ingin
ke perpus. Tapi karena tak ada teman, ia enggan pergi sendiri. Seperti biasa
aku mengambil majalah sekenanya dan duduk di bangku pojok. Enggan di ganggu
siapapun. Sedangkan Tere , masih asik memilah-milah buku cerita. Yah, maklum
pecinta novel gitu..
Majalah
itu hanya sekedar formalitas belaka. Karena tujuan ku yang utama adalah untuk
merenung. Kali ini aku berfikirtentang cinta. Cinta yang ada antara lelaki dan
perempuan. Rasa yang bahkan sepertinya aku takkan pernah merasakannya. Rasa
yang selalu kuharapkan dari orang tuaku...
Ya,
aku tak pernah tahu bagaimana siswi-siswi seangkatanku menjalani hari-harinya
bersama orang tuanya. Sebenarnya, aku tak peduli. Tapi terkadang aku ingin tahu
semuanya.
Tak
sadar Tere telah ada didekatku. Ia asyik membaca novelnya yang berjudul
”ayat-ayat cinta”. Sebentar-sebentar ia menoleh ke arahku. Rupa-rupanya ia
memerhatikan aku sedari tadi.
Saat
aku tersadar dari lamunanku, Tere langsung menyambarku. “haey, Tif lo gapapa
kan?”
“enggak
papa. Memangnya kenapa? ” aku
“lo
baca majalah apa ngelamun,sih? Kalau mau ngelamun jagan di sini. Tuh,
majalahnya aja sampe kebalik. Nglamunin apa sih?” tere
“aduh,
ketahuan deh. Tapi, suka-suak aku dong mau nglamun di mana aja. Itu hak ku..
kamu repot banget ngurusin hidup orang.” Aku
“Iyeee,
sorry.. sensi banget. Nglamunun apa sih?” Tere
“Iiih,
kepo deh.”Aku
Suasana
hening sejenak. “Tere, kamu dah pernah rasain cinta?” aku
“idih,
tadi ditanya bilang kepo. Sekarang malah tiba-tiba nanyain cinta. Kesambet
apaan lo?” Tere
Suasana
hening lagi.” Kenapa kamu nanyain cinta? Semua orang pasti pernah ngrasain
cinta dan dicintai Tif. Meskipun belum pernah pacaran. Karena cinta ada selalu
di hati. Misalnya cinta orang tua...”
“
sayangnya aku berbeda Ter! ” aku
Tere
tak menggubris. Dan pembicaraan pun berakhir. Aku melamun lagi. “ benarkah aku
pernah merasakan cinta? Seperti apa ya?” batinku terus bertanya.
“udah
ya, aku mau turun dulu. Mau makan, duluan ya Tif. Jangan nglamun aja lo!” tere
Aku
tak menjawab. Pikiranku terjun bebas melayang dan membayangkan betapa indahnya
cinta. Yang bahkan aku tidak mengetahuinya. Tapi aku selalu berharap rasa itu
akan datang kepadaku. Yang ku tahu cinta itu indah. Seperti kata orang
kebanyakan.
***
Hari
demi hari berlalu. Sampai saat ini tak juga kutemui cinta. Tak kunjung hadir,
dan sama sekali tak ada yang menyentuh hatiku. Semuanya hambar. Hingga aku
mulai teobsesi dengan kata cinta dan kasih sayang. Dan aku harus menemukannya.
Kali ini aku bertemu dengan Keynan. Ia murid yang pandai, dan baik pula. Kurasa
dia bisa ku ajak bercerita.
“Key,
bolekah aku bertanya sesuatu?” Aku
“tentu
saja. Tentang apa?” Keynan
“tentaang
cinta dan kasih sayang” aku
Key
terkejut. Seorang gadis yang tak pernah menyapanya dan tak pernah berbincang-bincang
dengannya, tiba-tiba bertanya seperti itu. Dengan perasaan bingung dan penuh
tanda tanya ia pun menjawab,”ia memangnya kenapa?”
“tidak
apa-apa. Aku yakin kau tahu banyak tentang itu. Dan aku ingin menceritakan
kepadamu sebuah rahasia.” Aku
“benarkah?
Kalau begitu lebih baik nanti saja pulang sekolah. Supaya tidak banyak yang
tahu” key
“baiklah.
Sebelumnya terimakasih Key.” Aku
Aku
pergi menjauh. Tapi, Key masih disana. Terpaku dan Terdiam seribu bahasa. Ia
diliputi rasa bingung tiada terkira. Sedangkan aku terus saja melangkah dengan
senyum-senyum kecil yang tlah lama hilang dari wajahku.
Sore
itu, sekolah sudah hampir sepi. Sengaja, aku membereskan buku-bukuku lebih lama
dari biasanya. Aku menunggu key yang tak
kunjung datang. Terbiasa dengan kesepiaan dan ketenangan, aku justru menikmati
saat-saat seperti ini. Tak lama kemudian, Key datang mengenakan jaket tebalnya.
Ia duduk disebelahku, terlihat canggung memang.
“Key,
ku kuira kau lupa. Dan takkan datang menemuiku.” Aku
Key
tersenyum, “takkan aku tak datang untuk janji yang tlah kubuat. Aku baru saja
megantarkan proposal ke meja pak Kepsek.”
Aku
pun berusaha membuka pembicaraan, “baik, kita mulai saja. Aku tidak mau
basa-basi. Aku tahu kalau waktumu begitu berarti. Aku ke sini hanya untuk
bertanya apa itu cinta?”
Mata
Key terbelalak. “Kau tidak tahu cinta?”
“Ironis
memang, tapi kalau aku benar-banar tak mengerti mau bagaimana lagi.” Kataku
menambahi,
“baiklah,
aku akan coba menjelaskan. jadi cinta itu sebuah perasaan yang hadir dengan
penuh kebahagiaan. Ia mampu mengubah pandangan seseorang. Bahkan bisa mengubah
kehidupan seseorang. Cinta itu bermacam-macam. Salah satunya cinta monyet
remaja pada kekasihnya.” Keynan
“seperti
cintamu pada Mayang? Aku masih belum paham Key.” Aku
“Mayang?
Aku tak pernah ada hubungan dengannya. Yang ku tahu, ia anak yang baik. Tapi,
ia sama seperti kau. Sama sekali belum pernah ku bercakap dengannya. Yah, kita
teman biasa. Sama seperti aku temanmu.” Keynan
“Sudahlah.
Lupakan tentang Mayang. Kembali ke topik kita megenai cinta dan kasih sayang. Tapi, tunggu
sebentar. Tadi kau menyebutku teman? Apa aku ini layak teman?” aku
Key
menghembuskan napas panjang. “ya, teman. Apa ada yang salah? Sepertinya, kau
terlalu kaku. Kita semua di sini teman, kan? Kau tahu, aku sering memerhatikan
dirimu melamun. Apakah
itu perihal cinta? Sepertinya, pembicaraan ini takkan ada akhirnya. Kau harus mencoba mencari cinta
dalam hidupmu. Merasakannya, dan menjalaninya.”
Aku
tertunduk. Ketika aku hendak mengucap kata, adzan berkumandang. Pembicaraan
kita hari ini pun berakhir. Bahkan, siswa terpandai pun belum
mampu meyadarkan ku tentang cinta. Apakah, aku terlalu bodoh? Hingga tak
mampu mencerna kata-kata Key.
Key,
siswa yang slalu menjadi yang nomor satu itu terlalu baik. Bahkan, untuk
pembicaraan pertamanya padaku. Ia begitu lembut, tak sekasar kelihatanya. Ia
santai dan penuh wibawa.
***
Tere,
siswi yang baik pula. Ia teman sebangku ku. Ia lah yang selalu menungguku.
Mengingatkanku ketika aku melamun. Ia care.
Bedanya, ia lahir di tengah keluarga yang lebih beruntung.
Aku pun masih bertanya-tanya. Tere yang kemarin sempat
tak menggubris ku, kini kuajak ke suatu tempat. Hanya berdua. Dan aku pun
menanyakannya soal cinta.
“ter, aku masih kepikiran soal cinta. Bagaimana aku
bisa mengerti dan memahaminya?”
“entahlah, sebenarnya cinta itu sederhana. Kau tak
perlu repot-repot mencarinya. Karena cinta itu ada disini, dihatimu.”
“benarkah?”
“ya, kamu tak perlu mencari definisi cinta. Karena
kamu sebenarnya sudah tahu. Hanya saja mungkin kamu belum sadar”
“entahlah ter, kurasa aku memang belum pernah
merasakan indahnya cinta. Semua terlalu kejam untukku.”
“husssss, nggak boleh gitu. Dah buruan habisin jusnya”
Begitulah pertemuan singkatku mengenal cinta yang
masih sebatas kata. Hingga akhirnya, aku larut dalam semuanya. Lelah. Tak lagi
kupikirkan tentang cinta. Hingga aku lupa aku pernah memikirkan perihal cinta.
Hingga suatu ketika…
***
Ada murid baru di sekolah. Satu kelas dengan ku. Enan
namanya. Dia dari Sulawesi. Badannya tegap dan kokoh. Matanya tajam menusuk.
Kulitnya hitam manis. Dan satu hal, dia selalu bisa membuat orang lain
tersenyum. Seperti magnet yang mengikat orang-orang di sekitarnya hingga tak
ada yang mau jauh-jauh darinya.
Saat pertama siswa itu datang aku sudah merasa
berbeda. Seperti ada yang mengusik ketenanganku. Batinku bergejolak. Sampai
kini pun, setiap kali mata beradu pandang aku selalu kalah. Bukan karena aku
tak berani menatap, namun selalu ada perasaan kaku yang membuatku tak kuasa
menatap.
Aku bingung. Bahkan sangat bingung. Enan memang
sedikit menyeramkan. Namun ia baik. kenapa aku begini? Anak motor yang satu
sekolah dengan ku pun pernah ku ajaak bertengkar. Dan aku sama sekali tidak
takut. Sepertinya ini bukan rasa takut.
Anganku terus melayang menembus ruang. Terbelesit
dipikiranku mengenai cinta. Ah, apa iya? Aku tidak yakin. Katanya cinta seperti
rasa seoang anak pada oorang tuanya. Dan yang kurasakan berbeda. Jantungku tak
pernah berdegup begitu kencang saat bersama orang tuaku. Namun ada satu hal
yang sama. Ketika aku tak ingin kehilangan mereka. Sama seperti aku tak ingin
kehilangan Enan.
Lama sekali bayangannya menghiasi pikiranku. Mengisi
ruang kosong dalam lamunanku. Bahkan, aku tak pernah banyak bicara dengannya.
Namun mengapa dia selalu dating dalam anganku.
Wkatu cepat berlalu hingga mentari sudah meninggi
menghiasi langit biru. Aku bangun dari dunia mimpiku yang semu. Mengisi hari
mingguku dengan mengerjakan perkerjaan rumah seperti yang disuruh ibuku.
Aku mulai mengisi air. Menyiapkan sabun untuk mencuci
piring dan perabotan rumah lainnya. Belum selesai aku mencuci terdengar suara
ketukan pintu yang agak keras. Spontan aku berfikir, apa itu Enan?
Terburu-buru aku membuka pintu, sampai lupa cuci
tangan. Ah ternyata bukan. Kulihat ada sesosok pria mengenakan kemeja rapid an sepatu.
Ia sudah agak tua.
“Permisi, apa ada yang bisa saya bantu, pak?” aku
Ia menoleh. Aku terkejut. Kupandangi wajahnya
berkali-kali. Lalu aku memeluknya. Kudekap erat dan tak ingin kulepaskan.
Tangisku mulai memecah. Dia adalah ayahku. Yang sudah bertahun-tahun pergi
meninggalkan rumah. Dan kini dia kembali.
“ini Latifa kan?” ayah
Aku melepaskan pelukanku, mengangguk.
“Latifa artamevia, anak ayah?” ayah
“iya ayah, ayah aku rindu.” Aku
“ayah juga” ayah
Ayah kembali mendekapku. Tak sadar aku mengotori
bajunya dengan sabunku.
“Aduhh, mati” batinku.
Perasaanku yang haru seketika berubah menjadi takut.
Ayah selalu marah ketika aku melakukan kesalahan. Aku tak berani berkata.
Hingga ayah sadar dengan sendirinya kalau baju yang ia kenakan basah. Namun
ternyata kali ini ayah tidak marah. Ia justru bergurau denganku. Dengan
nada-nada yang renyah. Dan senyum yang merekah. Aku mulai bahagia.
Beberapa saat kemudian, Ibu pulang. Kita menghabiskan
sepanjang hari dengan bercerita. Bercerita tentang kehidupan masing-masing. Dan
akhirnya kita dapat saling berbagi dan memahami. Mereka pun sedikit demi
sedikit memahami posisiku. Meskipun itu tak merubah apa-apa, tapi aku bahagia.
Sangat bahagia.
“sekarang, kita semua telah utuh. Berkumpul dalam satu
ikatan. Ayah tidak ingin membangun jarak dengan kalian. Sekarang, kita nikmati
saat-saat indah dalam hidup kita. Dan ayah ingin dengar bagaimana kehidupan
kalian di sini?” ayah
“ayah lah cerita dulu. Bagaimana hidup disana? Kenapa
ayah lama tak pulang? Kita rindu ayah” aku
Seminggu sudah kebersamaan itu berlangsung. Kedamaian
itu tercipta. Dan perasaan itu terbangun. Dan aku mulai berfikir apakah ini
yang dimaksud kasih sayang? Haruskah aku menunggu selama ini untuk dapat merasa
diperhatikan. Merasa sama seperti anak-anak pada umumnya.
Hingga suatu
ketika Ibuku jatuh sakit. Keadaan rumah pun tak lagi sama. Ayah juga diminta
bos pergi bareng bos . namun, Ayah memutuskan untuk tetap tinggal dirumah. Hari
demi hari berganti. Hidup kami mulai sulit.
“Disini susah cari kerja, ayah harus balik sana lagi”
ayah.
Aku tak mampu menolak. Kini aku Sendiri. Lagi. Seperti
dulu.
Dilain sisi, Si
Enan makkin menjadi. Kelakuannya tak dapat diambil nalar. Di sekolah ia tambah
brutal urakan. Tp tetap, aku masih menyukainya. Berharap suatu ketika ia
berubah.
Enan pun kian berubah baik. aku mengagumi dirinya. Dan
akhirnya dialah yang mengajariku arti cinta yang sesungguhnya. Dia menjadi
sosok lelaki terhebat dalam hidupku. Lain dengan ayahku yang kian pergi,
berlalu. Meski kutahu ayah pergi untukku. Ayah pergi, untuk keluargaku. Enan seakan
membuatku lupa akan semua masalahku. Ia datang membawa senyuman. Menggerakkan hati
dan raga ku. Kita berjalan sebagai sahabat. Sangat baik. teratur. Aku mulai
terbiasa..
Karya: Maghfiroh Izza Maulani