Youtube

https://www.youtube.com/channel/UCxN1EYpHWR_SJdzBMtTyQeg

Minggu, 23 Mei 2021

Aku Menderita Pica, dan Aku Ingin Sembuh

Hai, aku penderita pica. Do you know pica? Pica adalah kebiasaan makan barang. Sebut saja aku Mae. Usiaku 20 tahun. Aku telah menderita lebih dari 4 tahun. Aku baru sadar aku sakit di tahun belakangan, dan aku baru tahu kalau aku menderita pica hari ini (24 Mei 2021). Akan ku ceritakan padamu bagaimana aku menderita pica, dan betapa takutnya aku saat ini.
Aku tidak tahu darimana kejadian ini bermula. Kurasa sejak SMA, aku sangat menyukai bau penghapus pensil (au menyebutnya setip) yang baru Aku berulang kali menghirupnya. Ah, enak sekali. Masih terbayang bagaimana rassanya. Tak cukup sampai disitu, aku mulai memakannya. Entah apa yang kurasakan pertama kali. Aku udah lupa. Yang jelas, rasanya hambar. Tidak berasa, tapi aku menyukainya. Aku mulai membawanya kemana-mana. Tidak hanya memakannya saat di kelas, ataupun dirumah. Tentunya tidak ada yang tahu perihal ini. Setiap kali ad orang, dan hampir ketahuan aku berhenti sesaat.
Jangan dibayangkan aku memakannya secara langsung. Aku mengusapnya dengan jari jari hingga terdapat butiran persis seperti saat kau menghapus coretan kertas. Aku memakan serpihan itu. Keadaan menjadi lebih buruk saat aku kemudian mulai memakan serpihan setip yang sudah kotor. Aku merasa sayang jika terbuang percuma, padahal aku sangat suka. Tak cukup sampai disitu, aku mulai mengunyah setip utuh secara langsung. Setelah itu, akan kembali ku muntahkan karena aku tak sanggup menelan dalam jumlah banyak. Aku ketakutan. Jujur, sejak awal aku tahu ada yang salah. Aku tahu mengonsumsi setip bukan hal yang baik. Aku sudah mulai mencari bahaya setip. Serpihannya saja terhirup tidak baik, apalagi memakannya? Tapi percayalah sangat susah menghetikannya.
Sebagai tambahan, aku sangat menyukai bau bensin, tinta spidol, cat kuku, sandal/sepatu/buku baru, minyak tanah, le dan sejenisnya. Baunya enak meski menyengat. Tak jarang aku curi curi menghirupnya. Meski setelah hirupan agak lama aku akan pusing. Of course, karena benda itu memang harusnya tidak dihirup. Bahkan aku tahu itu bias mengakibatkan kanker. Untuk yang satu ini, aku masih bisa mengendalikannya meski kadang khilaf.
Kejadian yang kuingat saat aku ketahuan memakan setip adalah saat kemah. Temanku Bay melihat tanganku dalam saku memainkan sesuatu, dan mulutkku tak berhenti mengunyah. Dia menanyaiku. Alih alih menjawabnya dengan berbohong, aku justru mengeluarkan setip dari tanganku. Jujur, malu sekali. Aku takut mereka akan menganggapku berbeda dan mulai tidak menerimaku. Tapi tidak. Bay hanya menasehatiku, selebihnya kita masih teman biasa. Ia pun tidak memberi tahu yang lain tentang kebiasaanku. Aku sangat bersyukur.
Sewaktu SMA, tidak banyak yang tahu mengenai ini. Orang orang sering bertanya, apa yang ku makan? Tapi selalu ku jawab “Tidak Ada”. Aku tinggal tidak bersama orang tua. So, orang tuaku bahkan tidak tahu. Mereka mulai tahu saat liburan semester, atau bahkan saat aku kuliah. Tentu saja mereka melarangku. Memarahiku kemudian menyingkirkannya dariku. Tapi hey, setip bukanlah barang yang mahal. Aku bias membelinya sendiri. Lagi dan lagi.
Aku sadar itu tidak baik. Kecanduan sesuatu, aku mengibaratkannya dengan narkoba. Aku mulai berfikir tentang halal dan haram? Tapi aku tak bisa menghentikannya. Sehari berhenti, sehari berikutnya kau mulai mencari. Aku mulai paham bagaimana perokok tak bisa berhenti merokok. Mungkin, hal yang sama terjadi.
Setelah 4 tahun, aku mulai merasa ada gejala di tubuhku. Aku kira itu hanya masuk angin/ diare biasa. Tapi, berlangsung lama. Bahkan hingga saat ini. Aku merasa ada yang salah dengan pencernaanku. Ku mulai ketakutan. Apakah aku menderita GERD/IBS? Aku tak berani memeriksakannya. Toh juga, ke dokter memerlukan biaya. Hingga kini, dugaanku adalah karena kebiasaanku mengonsumsi setip pencernaanku mulai terganggu. Ya, aku berhenti mengonsumsinya. Hanya jika aku merasakan sakit. Sakit perut biasanya. Selebihnya, aku seolah lupa hingga aku masih memakannya.
Malam ini. Aku kembali menemukan fakta baru. Ternyata selama ini aku menderita pica. Akibatnya, tentu banyak penyakit yang bias muncul. Salah satunya pencernaan. Pica juga dapat berujung pada bunuh diri dan kematian. Aku tidak terlalu peduli. Karena aku sudah tahu konsekuensinya. Yang membuatku takut adalah pencarian pica ini ada di web rumah sakit jiwa. Ternyata, memang salah satu penyebabnya adalah kondisi mental yang kurang sehat. Hingga saat menulis ini, aku tidak ahu apakah aku masih waras?
Dalam kasusku, aku tidak tahu sebab pastinya. Mungkin, kondisi mental salah satunya. Karena ku akui, saat mengonsumsi setip aku mungkin tidak begitu cemas. Pikiranku mulai teralihkan. Guys, pada hari ini aku tahu aku mengidap penyakit pica dan aku ingin sembuh. Tidak peduli bagaimana sulitnya. Aku ingin kembali normal seperti kalian. Can you help me? Of course, setidaknya banutulah dengan doa. Disini aku akan terus berusaha. Aku harap, Tuhan mempermudah jalanku dan jalanmu.
Terakhir, untukmu yang mungkin merasa lain sepertiku. Kita sama. Kamu tidak sendirian. Ayo, kita bangun kita yang baru tanpa benda benda itu. Ku tahu, tidak akan mudah. Tapi, look at me! Sekarang kamu punya teman unuk sama sama berjuang menjadi normal.
Salam,
Mae

Topik 6 Aksi Nyata PSPI

  Topik 6 Aksi Nyata Perspektif Sosiokultural dalam Pendidikan Indonesia Nama          : Maghfiroh Izza Maulani NIM             : 230809...